Logo Header Antaranews Sumbar

Biaya Pendidikan Pemicu Inflasi Padang Pada Agustus

Kamis, 1 September 2016 20:30 WIB
Image Print

Padang, (Antara Sumbar) - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar), mencatat biaya pendidikan menjadi pemicu inflasi di provinsi itu pada Agustus 2016 karena bertepatan dengan tahun ajaran baru.

"Pada Agustus 2016 Kota Padang mengalami inflasi sebesar 0,84 persen kenaikan biaya pendidikan SMA dan harga cabai menjadi pemicu utama," kata Kepala BPS Sumbar, Dody Herlando di Padang, Kamis.

Menurut dia pada Agustus 2016 terjadi peningkatan indeks pada enam kelompok pengeluaran yaitu kelompok bahan makanan mengalami inflasi sebesar 1,88 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,32 persen, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,48 persen, sandang 0,14 persen, kesehatan 0,71 persen, pendidikan, rekreasi, dan olahraga 5 persen.

Peningkatan tertinggi terjadi pada kelompok pendidikan yang mengalami kenaikan indeks dari 127,14 menjadi 133,50 poin, lanjutnya.

Ia menyebutkan beberapa komoditas yang mengalami peningkatan harga selama Agustus 2016 antara lain biaya sekolah menengah atas, cabai merah, beras, sekolah menengah pertama, jeruk, tarif listrik, ikan tongkol, jengkol, kentang, kontrak rumah, dan beberapa komoditas lainnya.

Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga diantaranya angkutan udara, bawang merah, papaya, pisang, daging sapi, teri, bayam, minyak goreng, tomat sayur, seng, cabe hijau dan beberapa komoditas lainnya, kata dia.

Ia menambahkan dari 23 kota di pulau Sumatera 15 kota mengalami inflasi dan delapan kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang 0,93 persen dan terendah di Kota Dumai 0,05 persen.

Sementara Kota Padang menduduki posisi keempat dan Kota Bukittinggi menduduki posisi ke-10 dari seluruh kota yang mengalami inflasi di Pulau Sumatera.

Sebelumnya, Kepala perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumbar, Puji Atmoko menyampaikan tantangan pengendalian inflasi 2016 cukup berat terutama menjaga agar tetap terkendali karena sebelumnya Sumbar pernah menduduki peringkat tertinggi inflasi nasional.

Ia mengatakan perlu perlakuan khusus terutama pada kelompok pangan bergejolak inflasi dapat terkendali.

Membaiknya perekonomian akan berimbas pada naiknya daya beli yang juga akan berpengaruh terhadap angka inflasi, ujar dia.

Puji menyampaikan peta jalan pengendalian inflasi yang telah diluncurkan Pemprov Sumbar diharapkan dapat mengendalikan inflasi dengan membuat program pengendalian yang terstruktur dari pusat hingga daerah.

"Cakupan peta jalan tersebut meliputi aspek produksi, tata niaga, infrastruktur, kelembagaan, konektivitas, sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi dalam mengendalikan inflasi," ujarnya. (*)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026