
Pengamat: Politik Uang Akibatkan Konflik Golkar Berlanjut
Senin, 9 Mei 2016 23:05 WIB

Padang, (AntaraSumbar) - Pengamat politik Sumatera Barat, Dr. Asrinaldi menilai jika masih terjadi politik uang dalam pemilihan ketua umum baru Golongan Karya (Golkar) ada kemungkinan konflik di tubuh partai tersebut berlanjut.
"Sepanjang masih berdasarkan suara dewan perwakilan daerah dan menggunakan prinsip ideologi tidak akan konflik, justru uang yang perlu diwaspadai," katanya di Padang, Senin.
Menurutnya sejauh ini politik uang yang terjadi di tubuh Golkar anginnya cukup kuat.
Baik itu di daerah maupun di pusat, upaya penguasaan kapitalis tersebut cukup kuat aromanya di Golkar.
Terlepas itu hadiah, pembayaran tiket, dan gratifikasi lainnya.
Dengan kader dan pelaku yang sebagian masih seperti dulu, kemungkinan hal tersebut muncul dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) cukup besar.
"Hal ini memberikan efek gangguan bagi kader muda," kata dia.
Sebab dengan karakter yang mengutamakan ideologi dan prinsip kepentingan bersama, kader muda tentunya tidak akan tinggal diam menyaksikan hal tersebut bila terjadi.
Akibatnya bukan tidak mungkin, tujuan awal untuk memilih ketua umum baru justru jadi degregasi atau perpecahan baru di tubuh partai tersebut.
Yang kemudian akan membentuk aliansi bahkan partai baru.
Bila hal tersebut dibiarkan bukannya hanya dua kubu, mungkin saja jadi berbagai kubu.
"Untuk itu perlu adanya pembersihan dari tubuh golkar tentang stigma pemenangan dengan uang," tambahnya.
Hal tersebut penting untuk kembali memperkuat partai yang pernah cukup digdaya selama tiga dasawarsa tersebut.
"Diharapkan Munaslub esok mengubah persepsi partai dan kader Golkar tersebut," ujarnya.
Sementara itu salah seorang calon ketua umum Golkar, Syahrul Yasin Limpo mengaku tidak ambil pusing tentang stigma negatif partainya terkait politik uang.
Menurutnya siapapun yang terpilih menjadi pimpinan harus jujur dan berintegritas. (*)
Pewarta: M R Denya Utama
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
