Logo Header Antaranews Sumbar

Banjir Kampung Pulo Surut Pluit Masih Berjibaku

Selasa, 22 Januari 2013 05:48 WIB
Image Print

Jakarta, (ANTARA) - Banjir yang melanda Ibu Kota Jakarta sejak pekan lalu, mulai menunjukkan suasana yang lebih membaik pada Senin. Sebagian besar wilayah Kampung Pulo yang sebelumnya terendam banjir hingga dua meter, kini ketinggian air praktis sudah surut. Pengungsi yang sebelumnya menumpuk di posko-posko penampungan warga, kini sebagian besar sudah kembali ke rumah masing-masing untuk bersih-bersih. Posko-posko yang sebelumnya dihuni oleh sekitar 6.000 warga, kini berkurang dan hanya menyisakan sekitar 2.700 jiwa. "Sebagian besar pengungsi banjir di kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur mulai meninggalkan posko penampungan kembali ke rumah mereka," kata Lurah Kampung Melayu, Jakarta Timur, Bambang Pangestu. Ketinggian air sesungguhnya belum kering betul karena masih ada genangan berkisar sekitar 30cm-50 cm. Akan tetapi hal inilah yang membuat warga untuk kembali lebih awal ke rumah masing-masing karena dapat memanfaatkan air sisa banjir tersebut untuk membersihkan kediamannya dari lumpur. Sementara bagi warga yang rumahnya masih tergenang air di atas ketinggian 100 cm terpaksa harus rela bertahan di penampungan. Perlu kerja keras untuk membersihkan lumpur yang mengendap di rumah-rumah warga. Namun dalam kondisi seperti itu sebagian warga tidak melakukannya sendiri karena juga mendapat bantuan dari oleh Tim Gabungan, dari Kepolisian, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Seorang warga Kampung Pulo, Rudi (47 tahun) mengatakan, "Mumpung ini lumpur belum mengering dan dibantu oleh petugas kita bersihkan, karena akan kesulitan dan butuh waktu lama jika lumpur tersebut sudah mengering". Meski warga sudah mulai membersihkan rumah dan lingkungan, namun masalah lainnya yang dihadapi adalah aliran listrik yang belum menyala. Faktor inilah salah satu yang membuat sejumlah pengungsi mengurungkan niatnya untuk keluar dari penampungan. "Rumah belum bersih, listrik masih padam sementara anak-anak harus ke sekolah. Mesin pompa air belum berfungsi, jadi kasihan juga kalau anak-anak saya belajar di tempat gelap dan kotor pula. Ya, coba bertahan di sini sajalah sampai rumah saya benar-benar bersih," kata Suhaimah (43). Banjir yang melanda Ibukota Jakarta dan sekitarnya kali ini tergolong besar karena menerjang sejumlah wilayah Jakarta dengan ketinggian hingga ada yang mencapai 3 meter. Berdasarkan Data Pemprov DKI Jakarta, musibah tersebut memaksa sekitar 103.000 orang warga mengungsi. "Terjadinya lonjakan pengungsi ini benar-benar diluar perkiraan Pemprov DKI. Padahal kalau kita lihat di lapangan, sudah banyak posko yang kita dirikan," kata Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Musibah selalu menyisakan penderitaan bagi yang mengalaminya. Kerugian yang cukup besar, mulai dari kehilangan harta benda, ada juga warga terutama yang tinggal di bantaran kali benar-benar kehilangan tempat tinggalnya karena hanyut terbawa arus banjir. Bantuan berupa makanan, obat-obatan, selimut, pakaian, tenda, perahu untuk evakuasi disediakan oleh Pemda DKI. Simpati dan bantuan juga terus mengalir dari sejumlah perusahaan, maupun perorangan yang langsung terjun ke lapangan sebagai tanda turut prihatin atas penderitaan yang dialami warga. Karena itu sangat beralasan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Taufiq Kiemas meminta kepada semua pihak untuk bergotong-royong membantu menghadapi banjir di DKI Jakarta. "Kami harapkan pada saat ini kita pakai hati, gotong royong. Tidak mungkin sendirian Pak Gubernur Jokowi, harus bersama-sama," kata Taufiq. Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, posko pengungsian didirkan sebanyak 128 posko, dengan rincian Jakarta Pusat sebanyak delapan posko, Jakarta Utara 24 posko, Jakarta Selatan 28 posko, Jakarta timur 34 posko dan Jakarta Barat. Tentu peristiwa banjir yang menimpa DKI Jakarta dan sekitarnya bukan merupakan musibah lokal. Jakarta sebagai ibukota negara merupakan jantung ekonomi nasional, karena sekitar 60 persen perekonomian Indonesia berada di wilayah ini. Tidak cukup sampai di situ, Istana Merdeka yang merupakan salah satu simbol pemerintahan Republik Indonesia juga tidak luput dari terjangan banjir. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung turun tangan. Sebagai Kepala Negara, Presiden Yudhoyono pun meninjau lokasi banjir dan menginstruksikan agar para pengungsi ditangani dengan sebaik-baiknya. "Saya ingin jajaran pemerintah pusat maupun daerah, dan sampai tingkat RT/RW bekerja bersama-sama," kata Presiden. Tidak tanggung-tanggung, Presiden meminta kepada Pemerintah Provinsi DKI agar mengerahkan sumber daya yang dimiliki untuk menangani banjir kali ini. Sementara Pemerintah Pusat memastikan sampainya bantuan yang dibutuhkan, baik Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, maupun Kepolisian dan TNI Polri. Tumpukan sampah Meskipun banjir sudah mulai surut terutama pada sejumlah tempat di Jakarta Timur seperti Kampung Pulo, Jatinegara, Gudang Peluru, namun telah menyisakan tumpukan sampah. Tumpukan sampah akibat banjir yang disebabkan meluapnya Sungai Ciliwung tersebut sangat beragam, mulai dari batang pohon, ranting pohon, barang-barang dari plastik, gabus, kursi, sofa, kasur, sampai lemari tertumpuk di pinggir jalan. Kepala Seksi Kebersihan Kecamatan Jatinegara, Niman Kaning, mengatakan, sampah itu sejak Minggu sore (20/1) dikumpulkan di pinggir jalan untuk mempermudah pengangkutan. Hal itu, kata dia, sudah menjadi semacam "kebiasaan" jika musibah banjir datang dan mulai surut, maka menyisakan sampah-sampah yang menggunung. Sampah-sampah ini kan bukan cuma dari warga, tapi juga yang hanyut dari Depok atau Bogor. Menurut dia, sampah-sampah yang dikumpulkan di Jalan Otista Raya ini belum semuanya diangkut dari pemukiman. "Ini baru sebagian. Yang bagian belakang yang dekat pinggir kali belum diambil karena air masih menggenang," kata Niman. Untuk pengangkutan sampah-sampah ini, pihaknya telah menyiapkan enam kendaraan sampah yang terdiri atas empat truk dan dua mobil bak terbuka serta menerjunkan puluhan personil kebersihan untuk mengangkut sampah-sampah tersebut. Banjir surut, tentunya tidak serta merta menghilangkan kerugian materil bagi warga yang mengalami musibah tersebut. Penangangan pascabanjir merupakan pekerjaan rumah bagi Pemda Provinsi maupun Pemerintah Pusat terutama untuk menangani dampak dari banjir tersebut. Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Jazuli Juwaeni meminta pemerintah menanggung segala kerusakan rumah warga pascabanjir yang melanda sejumlah daerah di Indonesia beberapa waktu terakhir. "Pemerintah harus memperbaiki rumah-rumah yang roboh dan rusak akibat banjir," kata Jazuli. Politikus PKS itu juga berharap selain mengganti kerugian materil warga, pemerintah perlu memperhatikan penanganan kesehatan warga pascabanjir misalnya terkait penyakit kulit dan diare serta penyakit lainnya, juga upaya membersihkan daerah rumah tinggal warga yang sempat dilanda banjir. "Kalau perlu pemerintah memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada warga korban banjir melalui rumah sakit pemerintah baik pusat baik daerah," kata Jazuli. Dalam menghadapi bencana, tentu respon cepat dari instansi terkait merupakan salah satu yang dinanti oleh warga. Seperti biasanya, jika banjir sudah usai maka akan muncul berbagai penyakit yang perlu tindaklanjut penanganannya. Untuk mengatasi hal itu, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menurunkan 147 tenaga kesehatan terdiri atas dokter, perawat, apoteker, asisten apoteker serta tenaga kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat. yang akan membantu Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta pada tanggap darurat banjir di Jakarta. Penangangan terutama penanganan kesehatan pasca-banjir terkait pencegahan kejadian luar biasa (KLB) penyakit. "Tim ini merupakan tahap kedua, berfokus kepada penanganan masalah kesehatan pasca-bencana, penyakit pasca-banjir seperti gatal kulit, flu, batuk, diare, ISPA, bahkan leptospirosis. Selain itu, juga menyentuh rehabilitasi korban secara psikologis," ujar Nafsiah. Tenaga kesehatan yang tergabung dalam Tim Brigade Siaga Bencana merupakan perwakilan dari RS Fatmawati, RS Persahabatan, RS Sitanala, RSPAD Gatot Subroto, RS Puri, RSAU Halim Perdana Kusumah, RS Pondok Indah, dan RS Bintaro, masing-masing lima orang dan dikoordinasikan oleh Direktorat Bina Upaya Kesehatan Kemenkes. "Tim ini anggota-anggotanya sudah terlatih dalam penanganan bencana, dan keistimewaannya adalah ada dua tim, satu untuk memberikan dukungan psikososial dan satu lagi tim medis. Jadi kalau ada bencana yang lama, seringkali ada yang stres, jadi butuh pengobatan jiwa juga," ujar Nafsiah. Pluit berjibaku Banjir yang melanda sejumlah wilayah seperti Kampun Pulo dan sejumlah lokasi di Jakarta Timur sudah surut. Namun bertolak belakang dengan sejumlah wilayah di Jakarta Utara, seperti Pluit, Kelapa Gading dan Muara Karang. Warga yang ada di kawasan ini masih berjibaku dengan banjir. Meskipun banjir mulai surut karena intensitas curah hujan yang menurun, namun ketinggian air banjir di wilayah Pluit, Penjaringan, Jakarta masih cukup tinggi. "Ketinggian air mulai berangsur surut di wilayah Pluit karena Jakarta tak diguyur hujan deras dalam beberapa hari ini. Ketinggian air di Pluit sudah surut kurang lebih 20 hingga 30 cm," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif. Menurut Syamsul, beberapa tempat masih tergenang banjir terutama yang dekat dengan pantai lebih disebabkan pengaruh banjir rob dan pengaruh air banjir sebelumnya yang tidak dapat mengalir ke laut. Sementara itu, Lurah Pluit, Tahta Yujang menuturkan ketinggian banjir di sejumlah RW mulai menurun yaitu dari 2 meter menjadi 1,5 meter, namun banjir masih merendam RW 04, 05, 06, 07, 08, dan 09. "Banjir masih merendam 6 RW, tapi ketinggiannya mulai turun dari 2 meter menjadi 1,5 meter. Menurunnya ketinggiaan air ini karena telah difungsikannya tiga unit pompa di waduk Pluit dan 10 unit pompa portabel," kata Tahta. Para korban banjir di kawasan perumahan Pluit Jakarta, bahkan sampai saat ini masih banyak yang belum mengungsi dan tetap tinggal di rumahnya. Sebagian warga memilih tidak meninggalkan rumah karena khawatir terjadi penjarahan terutama bagi rumah-rumah yang ditinggal mengungsi. Seperti diungkapkan Cindi, seorang warga Pluit Indah, bahwa dirinya sudah bersedia mengungsi, tapi suaminya tetap berada di rumah untuk menjaga barang-barang karena takut dijarah. Untuk itu selain petugas evakuasi, tenaga medis dan petugas posko pengungsian, pengamanan di wilayah ini juga ditingkatkan sebagai antisipasi terjadinya tindakan penjarahan. Tercatat, kawasan yang paling parah diterjang banjir adalah Pluit Permai, Pluit Indah, Pluit Samudra dan Pluit Utara. Dari hasil pantauan di beberapa sungai di Jakarta pada Senin siang sekitar pukul 14.00 WIB, di pintu air Angke Hulu 110 cm (siaga IV), Pesanggrahan 80 cm (siaga IV), Krukut Hulu 70 cm (siaga IV), Katulampa 50 cm (siaga IV), Depok 150 cm (siaga IV), Manggarai 740 cm (siaga IV), Cipinang Hulu 80 cm (siaga IV), Sunter Hulu 50 cm (siaga IV), Karet 430 cm (siaga IV), Pulogadung 365 cm (siaga IV), Pasar Ikan 173 cm (siaga III). Kendati sebagian besar titik banjir sudah mulai surut, namun BNPB mengimbau masyarakat untuk tidak lengah dan tetap waspada karena Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan deras akan tetap turun sepekan ke depan dan potensi banjir besar masih ada. Berkurangnya hujan selama dua hari terakhir telah menyebabkan tinggi muka air sungai menurun pada pada level Siaga III dan IV. Kondisi ini menunjukkan bahwa kawasan Jakarta relatif aman dari ancaman banjir. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026