Logo Header Antaranews Sumbar

WPNS 2016 Bahas Keamanan Maritim Anggota

Rabu, 13 April 2016 13:44 WIB
Image Print

Padang, (Antara) - Simposium Angkatan Laut Pasifik Barat ke-15 atau Western Pasific Naval Symposium (WPNS) 2016 yang digelar di Kota Padang, Sumatera Barat selama dua hari mulai Rabu, akan membahas keamanan maritim di masing-masing negara.

"Simposium ini meerupakan forum kepala staf angkatan laut dalam rangka mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan keamanan maritim dan kegiatan yang dari kebijakan kerja sama sudah dibangun. Apa yang kita bicarakan di WPNS merupakan turunan dari kebijakan masing-masing negara. Namun, pembahasan keamanan maritim tidak dilakukan secara khusus," kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi saat Membuka "Western Pasitic Naval Symposium (WPNS) 2016" di Kota Padang, Sumbar, Rabu.

Simposium ini dihadiri oleh anggota WPNS sebanyak 27 negara, di antaranya, China, Singapura, Amerika, Australia, Perancis, India, Vietnam, Bangladesh, Thailand, Jepang, Perancis, Srilanka, Papua Nugini, Malaysia, Brunei Darussalam, Peru, Selandia Baru, dan Kanada.

Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatan kerja sama dan kemampuan dalam pelaksanaan operasi Angkatan Laut sehari-hari anggota WPNS guna membangun saling percaya antara Angkatan Laut melalui kerangka kerja sama dalam rangka diskusi tentang isu isu maritim kepentingan bersama, pertukaran informasi, pelatihan dan pertukaran personel.

Simposium itu juga akan memutuskan apakah menyepakati bila Kolombia dan Inggris akan menjadi observer WPNS. "Tiap delegasi WPNS memberikan persetujuan/keputusan atas permintaan negara Kolumbia dan Inggris untuk menjadi observer WPNS," katanya.

Selain itu, kata Kasal, dalam simposium akan dibahas dukungan soal tata cara bila ada pertemuan dadakan di laut atau 'code for unalerted encounters at sea (CUES). Ini akan kita rumuskan, apakah nanti akan menjadi aturan yang baku atau tidak. Ini untuk menghindari terjadinya insiden di lapangan, ujar Laksamana TNI Ade Supandi.

Simposium juga akan memutuskan tentang program kerja sama atau pertukaran para perwira. Karena untuk mendekatkan hubungan angkatan laut, perlu dibangun komunikasi perwira angatan laut dari maisng-masing negara.

"Programnya bisa saling tukar-menukar perwira, saling berkunjung, pendidikan atau latihan. Kalau interaksi para perwira ini lebih mudah, maka komunikasi akan mudah ketika mereka menjadi pucuk pimpinan di AL," kata Kasal.

Ia mengatakan, keputusan tersebut merupakan program kemitraan dan kerja sama negara-negara anggota WPNS dalam rangka membangun kepercayaan, peningkatan kapasitas dan interoabilit dalam kerangka tentang kesadaran menjaga laut sesuai perkembangan tantangan keamanan maritim saat ini.

Diharapkan lewat forum WPNS ini, Indonesia dalam hal ini TNI AL dapat menunjukkan peran aktif dalam melaksanakan diplomasi militer dalam merespon perkembangan keamanan maritim di wilayah Pasifik Barat.

Sekaligus mendukung kebijakan poros maritim dunia yang merupakan aplikasi kebijakan luar negeri Indonesia yang berdampak lokal dan regional. TNI AL terus melaksanakan strategi diplomasi maritim guna mewujudkan pertahanan maritim melalui forum kerja sama dan kemitraaan antar-Angkatan Laut di wilayah regional Pasifik Barat.

TNI AL dengan bangga menyelenggarakan kegiatan simposium dengan tema Kemitraan Maritim untuk Stabilitas Wilayah atau 'Pasifik Barat Maritime Patnership For Stability in Western Pasific Region' itu untuk pertama kali setelah 37 tahun forum telah berdiri. Selanjutnya WPNS ke-16 akan dilaksanakan pada 2018 di Busan, Korea Selatan. (*)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026