
Dishutbun Solok Selatan Kekurangan Peralatan Pemadaman Karhutla
Sabtu, 24 Oktober 2015 12:10 WIB

Padang Aro, (Antara) - Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, masih kekurangan peralatan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Kami kini hanya memiliki baju tahan api empat pasang. Hanya itu. Baju itu DAK tahun 2014," kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Solok Selatan, Tri Handoyo di Padang Aro, Sabtu.
Sejauh ini, katanya, upaya pemadaman hanya dilakukan dengan alat seadanya, yang terkadang mendapat bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
"Kami contohkan saat upaya pemadaman kebakaran lahan di Muaro Sangir Dusun Tangah, dimana kami bersama warga hanya menggunakan ember serta memukul-mukul api dengan kayu agar tidak merembet ke lahan lain," katanya.
Ia menyebutkan, kebakaran lahan dan hutan pada tahun ini meningkat dibanding tahun lalu dan skalanya lebih luas. "Tahun lalu kebakaran tidak ada yang sampai se-hektare, tapi sekarang ada yang mencapai dua hektare," katanya.
Ia mengatakan, pihaknya kini membutuhkan tambahan peralatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan berupa kantong air, tongkat api, pompa jinjing, sekop atau cangkul untuk membuat sekat api.
"Nanti kami upayakan dari DAK 2016," ujarnya.
Selain kekurangan peralatan pemadaman api, Dishutbun Solok Selatan belum memiliki tim pemadam. Upaya-upaya pemadaman kini hanya memanfaatkan polisi hutan (Polhut) yang berjumlah sembilan orang dimana rata-rata usianya sudah mencapai 50 tahun, bahkan ada yang memasuki masa pensiun.
"Jika dibentuk tim, Solok Selatan setidaknya butuh SDM sekitar 10-12 orang," katanya.
Ia menyebutkan, dengan luas hutan di Solok Selatan yang mencapai 235.000 hektare, idelanya daerah itu memiliki polisi hutan sebanyak 50 orang. Dimana satu orang polhut bisa mengawasi 5.000 hektare hutan.
Pada Rabu (21/10), terjadi tiga kebakaran hutan dan lahan di Solok Selatan, yakni di daerah Sinoek dan Muaro Sangir Dusun Tangah Kecamatan Sangir Batang Hari seluas lebih kurang empat hektare. Lokasi kebakaran di daerah ini merupakan hutan produksi yang telah dijadikan masyarakat untuk perkebunan karet.
"Dari informasi, kebakaran di SBH (Sangir Batang Hari) berawal ketika oknum warga membakar semak belukar setelah dirambah," katanya.
Kebakaran juga terjadi di daerah Pinti Kayu, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh sekitar dua hektare yang merupakan hutan lindung. Diduga, pembakaran tersebut untuk pembukaan lahan perkebunan.
Tri menyebutkan, dari pantauan satelit NOA pada Jumat (16/10) ditemukan empat titik panas (hot spot) yang berada di daerah Tandai, Kecamatan Sangir. Tim dari Dinas Kehutanan Sumbar pada Jumat (23/10) memantau lokasi tersebut untuk memastikan apakah titik panas itu masih ada atau tidak. (*)
Pewarta: Joko Nugroho
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
