Logo Header Antaranews Sumbar

Ekspor Sumbar Agustus Turun 11,40 Persen

Selasa, 15 September 2015 22:19 WIB
Image Print

Padang, (AntaraSumbar) - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) mencatat ekspor daerah itu pada Agustus 2015 turun 11,40 persen dibandingkan Juli yang mencapai mencapai angka 144,1 juta dolar Amerika Serikat (AS).

"Ekspor Sumbar pada Juli seluruhnya berasal dari komoditas nonmigas dengan total nilai sebesar 127,7 juta dolar AS," kata Kepala BPS Sumbar Yomin Tofri di Padang, Selasa.

Ia mengatakan golongan barang yang diekspor pada Agustus 2015 paling besar adalah lemak dan minyak hewan 82,1 juta dolar AS, golongan karet dan barang dari karet sebesar 34,3 juta dolar AS dan ampas atau sisa industri makanan 2,3 juta dolar AS.

Negara tujuan ekspor nonmigas bulan Agustus 2015 terbesar adalah India sebesar 38,1 juta dolar AS, Amerika Serikat 30,1 juta dolar As, Bangladesh 17,1 juta dolar As, dan Singapura 15,1 juta dolar AS, kata dia.

Menurut dia, ekspor ke India memberikan peran sebesar 36,02 persen terhadap total ekspor Sumbar Agustus 2015, Amerika Serikat 19,68 persen, dan Singapura 9,81 persen.

Sedangkan menurut sektor, ekspor produk industri Agustus 2015 turun sebesar 13,07 persen dibanding Juli 2015 dan ekspor hasil pertanian naik 22,42 persen, lanjut dia.

Ia melihat penurunan ekspor nonmigas Agustus 2015 dibandingkan Juli 2015 terjadi pada beberapa negara tujuan yaitu Malaysia 14,39 persen, dan Pakistan 12,53 persen.

Sementara ekspor ke beberapa negara tujuan lain meningkat antara lain India 0,74 persen, Amerika Serikat 0,10 persen, Singapura 28,11 persen, Selandia Baru 82,55 persen , Tiongkok 21,06 persen , dan Jepang 229,01 persen.

Sementara, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumbar Puji Atmoko mengatakan komoditas ekspor daerah itu masih didominasi oleh crude palm oil (CPO) atau minyak sawit serta karet dalam lima tahun terakhir.

"Hasil industri pengolahan di sektor perkebunan masih menjadi komoditas ekspor utama di CPO berkontribusi sebesar 71 persen dan karet 16 persen," kata dia.

Namun ia menilai negara-negara tujuan ekspor sedang mengalami perlambatan ekonomi sehingga mempengaruhi ekspor dan salah satu cara menyiasati adalah melalui industri pengolahan, agar produk yang dijual memiliki nilai tambah.

Ke depan yang perlu dilakukan adalah meningkatkan nilai tambah CPO melalui industri pengolahan jika peningkatan produksi tidak dimungkinkan lagi, kata dia. (*)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026