
Pengamat Apresiasi Langkah Mendag Menstabilkan Harga Sembako
Rabu, 24 Juni 2015 20:09 WIB

Jakarta, (Antara) - Pengamat dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dhany Agung mengapresiasi langkah Kementerian Perdagangan yang sangat responsif dalam menangani berbagai persoalan khususnya dalam menstabilkan harga sembako pada bulan Ramadhan 1436 H.
"Saya mendapat banyak laporan dari masyarakat bahwa Kementerian Perdagangan sangat responsif dan cepat menangani berbagai kendala atau gejolak yang muncul di masyarakat," kata peneliti LIPI Dhany Agung di Jakarta, Rabu.
Menteri Perdagangan Rachmad Gobel sebelumnya telah mengeluarkan izin impor daging sapi sebanyak 29 ribu ekor sapi siap potong untuk menstabilkan harga daging saat puasa dan lebaran.
Selain itu, Mendag juga telah menyiapkan keluarnya Perpres Nomor 71 Tahun 2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Harga Kebutuhan Pokok dan Barang Penting. Perpres ini walau diragukan efektifitasnya, ternyata mampu juga mengendalikan gejolak harga selama puasa ini.
Dhany menjelaskan juga, ketika harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik menjelang bulan puasa, Menteri Gobel langsung menggelar operasi pasar dan mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mengendalikan harga dan inflasi yang terjadi.
"Kita patut mengapresiasi kepada Mendag yang responsif dan bisa mengendalikan gejolak harga di saat ramadhan," kata Dhany.
Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP) Fadli Nurzal juga mengapresiasi Mendag yang bisa menstabilkan harga di saat puasa.
Karena itu, Nurzal terus meminta Mendag Rachmat Gobel agar tetap mengambil langkah-langkah untuk menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok terutama menjelang lebaran.
Fadli mengakui, saat ini harga masih merata dan kalau pun ada yang naik tidak secara signifikan.
"Kenaikan harga-harga sekarang memang tidak merata, ada stabil dan ada yang naik, tapi tidak begitu singnifikan. Kenaikan harga ini pun cenderung disebabkan distribusi yang panjang, misalkan kentang dari Bukit Tinggi harus dibawa dulu ke Jakarta, kemudian baru dilempar ke pasar. Tentu dengan pendistribusian begini menambah biaya yang berakibat naiknya harga barang," katanya. (*)
Pewarta: Jaka Suryo
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
