
Rekam Data e-KTP Mentawai Terkendala Kerusakan Perangkat

Padang, (ANTARA) - Proses rekam data kartu penduduk elektronik (e-KTP) di Kabupaten Kapulauan Mentawai, Sumatera Barat terkendala akibat terjadinya kerusakan sejumlah perangkat. Kepala Bidang Pencatatan Sipil Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Mentawai Gabriel Sakeru ketika dihubungi dari Padang, Rabu, mengungkapkan, perangkat yang rusak tersebut berupa pemindai retina dan sidik jadi yang terdapat di sejumlah kantor desa. "Dari keterangan operator, alat tersebut tidak dapat membaca retina mata dan sidik jari sehingga ditolak oleh sistem komputer," jelasnya. Menurutnya, alat yang rusak tersebut sudah dikembalikan ke pusat dan telah diminta penggantinya, tetapi hingga kini belum ada jawaban. Untuk pelayanan, para petugas harus menggunakan sisa alat yang ada sehingga memperlambat proses rekam data. Buruknya sinyal server juga memperlambat proses pengiriman data yang sudah direkam ke pusat. Selan itu, terdapat kendala lain yakni tidak tersedianya arus listrik yang cukup untuk menjalankan parngkat. Meski sudah terdapatnya generator sebagai pengganti sumber energi, namun kendala baru muncul yakni tidak cukupnya dana untuk membeli bahan bakar. "Dana yang kita miliki tidak mencukupi untuk membeli BBM apalagi di sini (Mentawai), BBM sulit didapat dan harganya cukup tingginya," ujar Gabriel. Lebih lanjut dikatakannya, faktor alam berupa tingginya gelombang juga menghambat perekaman data secara mobile di mana petugas yang mendatangi rumah-rumah penduduk yang cukup jauh seperti di Kecamatan Siberut Barat dan Siberut Barat Daya. "Walau ada kendala-kendala itu, kita optimistis rekam data di Mentawai akan rampung 90 persen hingga 31 Oktober 2012," katanya. Saat ini, total rekam data dari 10 kecamatan di Mentawai sudah mencapai 82,04 persen. Dari 44.483 jumlah wajib KTP, sebanyak 36.496 di antaranya sudah rekam data. Capaian rekam data terbanyak berada di Kecamatan Sipora Utara yang mencapai 122, 75 persen. Sementara, capaian paling sedikit berada di Kecamatan Pagai Selatan yang hanya 52,28 persen. "Hal itu terjadi karena rusaknya peralatan serta tidak mendukungnya gelombang laut untuk melakukan rekan data secara jemput bola," ujar Gabriel. (*/ril/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
