
Saksi: Nazaruddin Berupaya Jatuhkan Anas Ketum Demokrat

Jakarta, (Antara) - Nuril Anwar mantan staf ahli Muhammad Nazaruddin menyebutkan adanya upaya skenario dari mantan pimpinannya untuk menjatuhkan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. "Intinya adalah memang puncak kemarahan dia (Nazaruddin) sangat tinggi sekali ketika di Singapura. Kita akan membuat skenario yang canggih bagaimana sahabat kita, Pak MA jadi ketua umum, agar kamu nanti mendapatkan posisi penting di situ," katanya dalam persidangan dugaan korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang Proyek Hambalang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin. Dijelaskannya, keberadaan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu di Singapura, terkait saat pelariannya dalam kasus pembangunan kompleks Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Ia menambahkan Nazaruddin saat itu menyatakan bahwa Anas Urbaningrum sudah tidak komitmen lagi terhadap dirinya, jadi perlu adanya pemilihan ulang ketua umum yang baru. "Kongres Luar Biasa (KLB) istilahnya," tandasnya. Dirinya mendapatkan janji oleh Nazaruddin untuk mendapatkan posisi di Partai Demokrat jika berhasil menumbangkan Anas Urbaningrum. "Ya bisa jadi wakil sekjen, wakil ketua umum. Tapi saya tidak menjawabnya," katanya. Ia menegaskan skenario untuk menjatuhkan Anas itu dilakukan di Singapura dan tidak mungkin dilakukan di Indonesia hingga dirinya intens berkomunikasi dengan "bos"-nya itu. "Dan ketika skype itu yang dilakukan oleh Iwan Piliang memang sudah dirancang dengan sangat rapih karena memang dia itu dihire Pak Nazar dengan gaji bulanan," katanya. "Saat itu saya sudah menjauh karena sudah fokus di DPR. Itu rancangannya sudah lama bagaimana skype dari luar negeri untuk melakukan serangan-serangan bertubi-tubi pada Mas Anas agar tumbang sebagai ketua umum," katanya. Ia menyebutkan hal itu memang skenario yang sangat luar biasa. "Targetnya itu memang untuk jatuhkan dari ketua umum," katanya. Anas dalam perkara ini diduga menerima "fee" sebesar 7-20 persen dari Permai Grup yang berasal dari proyek-proyek yang didanai APBN dalam bentuk satu unit mobil Toyota Harrier senilai Rp670 juta,satu unit mobil Toyota Vellfire seharga Rp735 juta, kegiatan survei pemenangan Rp478,6 juta dan uang Rp116,52 miliar dan 5,26 juta dolar AS dari berbagai proyek. Uang tersebut digunakan untuk membayar hotel-hotel tempat menginap para pendukung Anas saat kongres Partai Demokrat di Bandung, pembiayaan posko tim relawan pemenangan Anas, biaya pertemuan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan pemberian uang saku kepada DPC, uang operasional dan "entertainment", biaya pertemuan tandingan dengan Andi Mallarangeng, road show Anas dan tim sukesesnya pada Maret-April 2010, deklarasi pencalonan Anas sebagai calon ketua umum di Hotel Sultan, biaya "event organizer", siaran langsung beberapa stasiun TV, pembelian telepon selular merek Blackberry, pembuatan iklan layanan masyarakat dan biaya komunikasi media. Anas juga diduga melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU harta kekayaannya hingga mencapai Rp23,88 miliar. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
