
Lima Lagi Pekerja Bantuan Tewas Saat Pertempuran Sudan Selatan Berkobar

Juba, (Antara/AFP) - Setidaknya lima pekerja bantuan Sudan Selatan tewas Selasa oleh milisi yang sama disalahkan atas pembunuhan pekerja bantuan di wilayah yang sama sehari sebelumnya, kata Perserikatan Bangsa Bangsa. Pembunuhan terjadi pada saat pasukan milisi di timur laut negara bagian Upper Nile bentrok dengan desersi tentara pada hari ketiga, dengan pekerja bantuan dipaksa untuk berlindung di kompleks PBB. "Dua korban dibunuh di Kota Bunj, seorang pekerja bantuan ketiga dilaporkan hilang tetapi diperkirakan tewas. Tiga tewas dalam penyergapan saat mereka sedang berusaha untuk kembali ke kota," ibu kota Maban, kata Misi PBB di Sudan Selatan (UNMISS) dalam satu pernyataan. Dikatakan milisi setempat yang bertanggung jawab - Angkatan Pertahanan Mabanese - tampaknya menargetkan warga sipil asal etnis Nuer, diduga sebagai pembalasan atas kerugian yang mereka derita dalam bentrokan dengan tentara pembelot Nuer. "Hari ini kejahatan keji terjadi pada pembunuhan seorang pekerja Bantuan Rakyat Norwegia (NPA) di Bunj kemarin pagi oleh para anggota milisi pertahanan diri yang sama" tambah UNMISS. Korban dilaporkan juga pada warga Sudan Selatan. Dikatakan bahwa serangan etnis ditargetkan pada pekerja bantuan bersenjata adalah berdampak "sangat drastis" pada operasi untuk menyediakan makanan dan tempat tinggal bagi lebih dari 127.000 pengungsi daerah yang telah melarikan diri ke selatan Sudan sejak Sudan Selatan memisahkan diri pada tahun 2011. Kekerasan baru-baru ini juga telah mengungsikan ribuan orang di daerah tersebut, mendorong PBB untuk memperingatkan "memburuknya situasi keamanan" saat para pengungsi mengalir ke dalam kamp di Doro. Misi PBB mengatakan Senin bahwa pihaknya telah mengirimkan satu unit pasukan penjaga perdamaian dari pangkalan kota Melut di negara bagian Upper Nile untuk melindungi staf di daerah, serta warga sipil yang berlindung di kompleks PBB. Sementara itu, pembicaraan damai untuk mengakhiri perang saudara di negara itu antara pendukung Presiden Salva Kiir dan mantan wakilnya Riek Machar dilanjutkan di ibu kota Ethiopia, Addis Ababa, pada Senin. Dua gencatan senjata sebelumnya antara kedua belah pihak cepat pecah. Pertempuran meletus pada 15 Desember antara pasukan yang setia kepada kedua pemimpin yang bermusuhan itu, yang telah mengontrol negara baru sejak kemerdekaannya dari Khartoum Juli 2011 setelah puluhan tahun perang. Bentrokan cepat merosot ke tingkat kekejaman garis etnis antaradua kelompok suku utama negara itu, Dinka dan Nuer, dari mana kedua pemimpin itu berasal. (*/sun)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
