
Unand Gelar Seminar Tentang REDD+

Padang, (Antara) - Universitas Andalas (Unand) Padang menggelar seminar dan kuliah umum tentang REDD + atau (Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan), Rabu. "Kuliah tentang REDD ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang pentingnya upaya pengurangan emisi khususnya karbon dengan melakukan penghijauan," kata Ketua Panitia Ardinis Arbain di Padang, rabu. Dia menyebutkan dalam seminar dan kuliah ini menghadirkan peneliti sekaligus direktur penanganan karbondioksida asal Belanda Paul Burgers. Menurut dia, Paul Burgers sangat konsisten dan telah berpengalaman berkecimpung dalam bidang reduksi emisi karbon di dunia. Yang terbaru, jelasnya, Paul Burgers mengadakan upaya penghijauan di Nagari Paninggahan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada tahun 1997 hingga 2001. Dalam kuliah ini, katanya, Paul Burgers membagikan pengalaman dan pengetahuannya selama berada di Agam tersebut, termasuk dalam cara melakukan pemberantasan rumput pada lahan terbuka guna menanam benih tanaman yang bernilai ekonomis. Dalam pemaparannya, Paul Burgers mengatakan bahwa upaya untuk mengurangi sekaligus menanggulangi emisi karbon dan gas berbahaya lainnya tidaklah harus dengan menjaga hutan. Dengan melakukan penanaman bibit pada lahan terbuka dengan teknik yang sederhana, masyarakat sudah dikatakan telah melakukan upaya REDD, katanya. Sementara dikatakan REDD +, katanya menambahkan, yakni adanya upaya untuk menjamin kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Dia mencontohkan yang terjadi di Paninggahan tersebut, dimana penanaman pohon dilakukan dengan pembasmian alang-alang dengan papan dan kemudian dilakukan penyebaran bibit. "Seperti yang pernah disiarkan salah satu TV swasta beberapa tahun lalu, jenis bibit ini terdiri atas mahoni, cengkeh, durian dan mahoni," katanya. Dia menyebutkan dalam empat tahun bibit ini tumbuh subur menutupi lahan yang terbuka akibat terjadinya longsor tersebut. Masyarakat mendapat keuntungan dari penanaman pohon tersebut berupa penghitungan karbon yang bisa diserap oleh pohon tersebut. "Perhitungan ini tentunya dilakukan oleh peneliti dan badan REDD + dunia," katanya. Dia juga menyebutkan saat ini di Paninggahan telah banyak peneliti dunia melakukan riset dan penghitungan daya serap karbon tersebut. Dia berharap seluruh wilayah yang terbuka di dunia dapat segera di reboisasi. (*/den)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
