Logo Header Antaranews Sumbar

Pemerintah Baru Persatuan Palestina

Selasa, 3 Juni 2014 05:55 WIB
Image Print

Ramallah, Palestina, (Antara/AFP) - Pemerintah baru Palestina pimpinan Perdana Menteri Rami Hamdallah diambil sumpahnya pada Senin di depan Presiden Mahmus Abbas. Kabinet baru itu menyatukan Fatah dengan Hamas, berisi 17 menteri, semua mandiri secara politik. Pemerintah baru itu secara alamiah teknokratik serta tidak memiliki amanat politik. Pemerintah itu mencakup tiga perempuan dan lima menteri dari Gaza. Tiga orang tertahan di Gaza itu akibat Israel pada akhir pekan lalu menghalangi mereka ke Ramallah menghadiri pengambilan sumpah tersebut. Daftar kabinet tersebut ialah: - Perdana Menteri: Rami Hamdallah - Menteri Dalam Negeri: Rami Hamdallah - Menteri urusan Tawanan: Rami Hamdallah - Wakil Perdana Menteri: Ziyad Abu Amr (dari Gaza) - Menteri Kebudayaan: Ziyad Abu Amr - Wakil Perdana Menteri: Mohammed Mustafa - Menteri Ekonomi: Mohammed Mustafa - Menteri Luar Negeri: Riyad al-Malki - Menteri Keuangan: Shukri Bishara - Menteri Kehakiman: Salim al-Saqa (tak hadir akibat tertahan di Gaza) - Menteri Pertanian: Shawki al-Ayaseh - Menteri Sosial: Shawki al-Ayaseh - Menteri Perburuhan: Mamun Abu Shahla (tak hadir akibat tertahan di Gaza) - Menteri Pendidikan: Khawla al-Shakhshir - Menteri Agama: Yussuf Ideis - Menteri Perumahan dan Pekerjaan Umum: Mufid Hasayneh (tak hadir akibat tertahan di Gaza) - Menteri urusan Yerusalem: Adnan al-Husseini - Menteri Pariwisata: Rula Maaya - Menteri Angkutan, Telekomunikasi dan Teknologi Informasi: Allam Mussa - Menteri Kesehatan: Jawad Awad - Menteri Pemerintahan Daerah: Nayef Abu Khalaf - Menteri urusan Wanita: Haifa al-Agha (tak hadir akibat tertahan di Gaza) - Sekretaris Kabinet: Ali Abu Diak Sesudah upacara pelantikan di gugus kepresidenan Muqataa di Ramallah, Abbas memuji berakhirnya perpecahan pahit dan kadangkala berdarah antara Gerakan Fatah dengan Hamas persaingnya, yang memerintah di Gaza. Hamas juga memuji pemerintah baru itu dan menyebutnya mewakili semua orang Palestina, dengan menyatakan itu titik balik dalam hubungan pahit sebelumnya dengan Fatah. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026