Padang (ANTARA) - Sebanyak 50 mahasiswa yang tergabung dalam Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Forsis Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang (UNP), membantu pemullihan pendidikan dan psikososial masyarakat pascabencana di Kanagarian Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh  Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

"Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program mahasiswa berdampak yang diinisiasi dan didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, untuk memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change), khususnya dalam membantu masyarakat pada fase pemulihan pascabencana," kata Ketua Tim Program Mahasiswa Berdampak Kenagarian Guguak Malalo, Dr. Etri Wahyuni, M.Pd., di Padang, Selasa.

Ia menjelaskan kegiatan program mahasiswa berdampak yang diadakan pada 8 Februari hingga 1 Maret 2026 lalu, difokuskan pada pemulihan pendidikan dan kondisi psikososial masyarakat pascabencana galodo.

Mahasiswa yang terlibat berasal dari berbagai program studi di lingkungan UNP, di antaranya Bimbingan dan Konseling, Psikologi, Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Teknologi Pendidikan, Pendidikan Nonformal, serta Administrasi Pendidikan.

"Pelaksanaan program ini difokuskan pada dua kegiatan utama, yaitu sekolah darurat dan pendampingan psikososial," sebutnya.

Menurutnya, kedua program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan mendesak masyarakat, khususnya anak-anak yang mengalami gangguan dalam proses belajar, serta masyarakat yang terdampak trauma akibat bencana. 

"Melalui sekolah darurat, anak-anak memperoleh kembali akses pembelajaran yang terstruktur dan menyenangkan, sehingga mampu memulihkan semangat belajar mereka," katanya.

Sementara itu, pendampingan psikososial memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan emosi, mengurangi rasa cemas, serta membangun kembali ketahanan mental. 

"Secara keseluruhan, program ini tidak hanya membantu pemulihan kondisi pendidikan dan psikologis anak, tetapi juga berkontribusi dalam memperkuat solidaritas, harapan, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi situasi pascabencana," lanjutnya.

Program mahasiswa berdampak dipimpin dan didampingi langsung oleh Ketua Tim Program Mahasiswa Berdampak Kenagarian Guguak Malalo, Dr. Etri Wahyuni, M.Pd., bersama Wakil Ketua Fardatil Aini Agusti, M.Pd. 

Kehadiran mahasiswa diterima Wali Nagari Guguak Malalo, Mulyadi sebagai mitra pengabdian di wilayah tersebut.

Pada tahap awal kegiatan, mahasiswa melakukan observasi dan pemetaan kebutuhan di lapangan. 

"Hasilnya menunjukkan bahwa sejumlah fasilitas pendidikan mengalami kerusakan, serta terjadi penurunan motivasi belajar anak-anak pascabencana," jelasnya.

Melalui program sekolah darurat, mahasiswa menyelenggarakan pembelajaran literasi dasar, matematika, dan bahasa Inggris dengan pendekatan yang terstruktur dan adaptif terhadap kebutuhan anak.

"Dalam pelaksanaannya, tim juga menyediakan modul pembelajaran yang disusun secara sistematis, serta berbagai peralatan pendukung, seperti media visual, alat peraga edukatif, dan bahan ajar interaktif guna menunjang efektivitas proses belajar," katanya. 

Ia menyebut salah satu kegiatan unggulan adalah wahana ilmu, yaitu pembelajaran interaktif yang dirancang secara menyenangkan, untuk membantu anak-anak mengejar ketertinggalan akademik. 

Selain itu, mahasiswa juga mengadakan pelatihan pidato dan public speaking bagi anak-anak, untuk meningkatkan kepercayaan diri, serta keterampilan komunikasi mereka, sehingga pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pengembangan soft skills anak secara menyeluruh.

Sementara itu, program pendampingan psikososial dilaksanakan melalui pendekatan kreatif, partisipatif, dan kontekstual sesuai dengan kondisi masyarakat setempat. 

Pada anak-anak, kegiatan dilakukan dengan memanfaatkan media edukatif, seperti Emotion Box dan Guidance and Counseling Spin Wheel yang digunakan secara langsung dalam sesi bermain sambil belajar.

"Melalui aktivitas ini, anak-anak tidak hanya diajak mengenali dan mengekspresikan emosi, tetapi juga dilatih untuk mengelola perasaan secara positif dalam suasana yang aman dan menyenangkan," jelasnya. 

Kegiatan ini dilaksanakan secara berkelompok, sehingga juga mendorong interaksi sosial dan rasa kebersamaan antar anak.

Pendampingan psikososial juga diperluas kepada masyarakat umum, khususnya orang dewasa dan lansia, melalui pendekatan yang lebih humanis dan kultural. 

Mahasiswa secara aktif melakukan interaksi langsung, seperti berbincang santai dengan para lansia pada waktu-waktu tertentu, terutama setelah pelaksanaan ibadah dalam tradisi shalat ampek puluah berjamaah yang rutin dilaksanakan di Nagari Guguak Malalo. 

"Momen ini dimanfaatkan untuk membangun kedekatan emosional, memberikan dukungan moral, serta membantu mengurangi rasa cemas dan kesepian yang dirasakan pascabencana," katanya. 

Selain itu, tim juga membagikan buku saku tanggap bencana kepada masyarakat, kemudian membacakan dan menjelaskan  isi buku tersebut, khususnya kepada lansia agar informasi dapat dipahami dengan baik.

Sebagai bentuk penguatan layanan psikososial yang berkelanjutan, tim mahasiswa turut menyerahkan kursi relaksasi kepada Pemerintah Nagari Guguak Malalo, sebagai media terapi sederhana bagi masyarakat terdampak. 

Penggunaan kursi relaksasi ini dilakukan dengan pendampingan konselor, serta didukung dengan penyediaan ruang khusus oleh wali nagari sebagai tempat layanan. 

Menurutnya, selama pelaksanaan program, masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan. Hal ini terlihat dari partisipasi aktif anak-anak dalam kegiatan pembelajaran, serta keterlibatan masyarakat dalam berbagai aktivitas sosial.

Tak hanya itu, tim juga melakukan kaderisasi kepada perwakilan masyarakat setempat, dengan memberikan pembinaan dan buku panduan dari konselor, agar mampu melanjutkan layanan psikososial secara mandiri setelah program ini berakhir. 

Dengan adanya kader dan buku panduan yang diberikan, penggunaan kursi relaksasi serta upaya pendampingan psikologis tetap dapat berjalan secara berkelanjutan, sehingga memberikan dampak jangka panjang bagi pemulihan dan ketahanan mental masyarakat.

Kegiatan ini juga dimonitoring Ketua LPPM Universitas Negeri Padang, Anton Komaini, serta Koordinator Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Kemendiktisaintek, Lutfi Ilham Ramdhani, beserta tim, pada 20 Februari.

"Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau secara langsung pelaksanaan program di lapangan, sekaligus memastikan bahwa kegiatan berjalan sesuai dengan perencanaan, serta memberikan dampak yang optimal bagi masyarakat sasaran," jelasnya.

Sebagai bentuk keberlanjutan program, di samping penyediaan kursi relaksasi untuk masyarakat, mahasiswa turut menyerahkan berbagai produk pembelajaran kepada pemerintah nagari. 

Produk tersebut meliputi modul Bahasa Inggris, literasi dasar, dan matematika, buku kumpulan pidato, buku cerita anak, serta buku saku bagi lansia, yang dirancang untuk mendukung kebutuhan edukasi dan kesejahteraan mereka. 

Selain itu, diserahkan pula media pembelajaran interaktif seperti panggung boneka, Emotion Box, dan Guidance and Counseling Spin Wheel.

Tidak hanya itu, berbagai peralatan yang sebelumnya digunakan dalam pelaksanaan sekolah darurat dan kegiatan psikososial juga turut dihibahkan, seperti tikar, meja lipat, speaker, papan tulis, serta alat tulis kantor (ATK), dan perlengkapan pendukung lainnya. 

"Penyerahan ini diharapkan dapat menunjang keberlanjutan kegiatan pembelajaran, dan layanan psikososial di nagari secara mandiri dan berkesinambungan,"lanjutnya.

Melalui Program Mahasiswa Berdampak ini, diharapkan terbangun sinergi berkelanjutan antara perguruan tinggi dan masyarakat, dalam mendukung pemulihan pascabencana. 

Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa sebagai agen perubahan, yang tidak hanya berperan secara akademik, tetapi juga hadir langsung memberikan solusi bagi masyarakat.