​​​​​​​Bukittinggi (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menggelar Panen Raya dan penutupan Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Operasional 2022 di Limapuluh Kota, Sumatera Barat, hasil pertanian warga terungkap meningkat hingga 76 persen tahun ini.

Panen raya (Field Day) dilaksanakan di Nagari Situjuah Gadang, Kecamatan Situjuah Limo Nagari Kabupaten Limapuluh Kota, Kamis, dengan melibatkan kelompok tani setempat yang telah diberikan pendidikan SLI sejak Juli 2022 oleh BMKG dan Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Sumatera Barat.

Turut hadir ke lokasi Panen Raya yang terletak di lereng Gunung Sago itu, Kepala Balai Besar MKG (BBMKG) Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, Kepala Stasiun Klimatologi Padang Pariaman, Heron Tarigan, Koordinator Stasiun BMKG Padang Panjang, Suaidi, Kepala Stasiun GAW Kototabang, Sugeng Nugroho, Kepala Stasiun Meterologi Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Sakimin dan Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Teluk Bayur, Syafrizal.

"SLI Operasioanal 2022 adalah rangkaian program BMKG untuk kali ketiga, dua lainnya ada di Agam dan Solok, tujuannya memasyarakatkan SLI kepada kelompok tani, meningkatkan keterampilan dan pengetahuan kepada petugas pertanian dan petani khususnya berkenaan dengan masalah iklim," kata Kepala Stasiun Klimatologi Padang Pariaman, Heron Tarigan.

Ia menyebut hasil pertanian di lokasi yang digiatkan oleh Kelompok Tani Sadar dan Satangkai Boneh itu mengalami kenaikan hasil panen sejak diberikan keterampilan dan pengetahuan dari SLI.

"Hasilnya signifikan, terjadi peningkatan produktifitas 7,72 ton per hektar yang sebelumnya hanya 4,39 ton per hektar, artinya 3,33 ton naik tiap hektar, 76 persen, hasil produktifitas hasil tani naik hingga kesejahteraan ekonomi petani ikut terangkat sesuai dengan sasaran BMKG dalam mensejahterakan masyarakat," kata Heron.

Menurutnya, selain memberikan panduan teknis sesuai pola tanam yang diarahkan sesuai perubahan iklim dan adaptasi dan mitigasi pertanian, petani juga dibekali keterampilan tata kelola tanaman, praktek dan pengamatan penyakit serta pemetaan tanaman dominan.

"Penting adanya edukasi, dengan mengetahui informasi iklim dapat meningkatkan antisipasi dampak fenomena cuaca dan iklim ekstrim yang mempengaruhi hasil tani dan ancaman gagal panen," katanya.

Kepala Balai Besar MKG (BBMKG) Wilayah I Medan, Hendro Nugroho mengatakan sektor pertanian sangat berkaitan dengan cuaca iklim yang dapat menurunkan produksi secara kualitas dan kuantitas yang mengancam ketahanan pangan nasional.

"Petani juga menghadapi ancaman global dari perubahan iklim yang memburuk dalam tujuh tahun terakhir, suhu terpanas saat ini, isu prioritas ini harus diperhatikan setelah masa pandemi COVID-19," kata Hendro.

Menurutnya, petani menjadi sangat rentan dengan perubahan iklim hingga BMKG berperan peting bersama petugas pertanian yang bersinggungan langsung dengan petani untuk memainkan peran membagi informasi dan identifikasi.

"Wujud nyata literasi dan advokasi di sektor pertanian melalui SLI yang telah dilakukan sebanyak 16.000 secara nasional ini diharapkan berkelanjutan hingga upaya pemahaman iklim untuk kesiapsiagaan dan adaptasi perubahan iklim, selain itu untuk mewaspadai potensi bencana juga," katanya.

Hendro menambahkan, program selanjutnya adalah kerjasama pentahelix bersama akademisi di seluruh daerah agar capaian edukasi BMKG dapat berjalan maksimal.