Tradisi rakik-rakik menyambut Idul Fitri, pengobat rindu perantau Agam akan kampung halaman
Senin, 2 Mei 2022 11:02 WIB
Rakik-rakik yang sedang berlayar di Danau Maninjau, Minggu (1/5) malam. (Antara/Dok. Rudi Yudistira)
Lubukbasung, (ANTARA) - Para pemuda dari masing-masing kejorongan di Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat menyambut Idul Fitri 1443 Hijriyah dengan tradisi rakik-rakik yang terbuat dari bambu dan dipasang lampu untuk memeriahkan malam takbiran pada Minggu (01/05) malam.
Ketua Pemuda Jorong Bancah, Nagari Maninjau, Romi Pasla di Lubukbasung, Senin (2/5) mengatakan tradisi rakik-rakik dilaksanakan para pemuda yang merupakan utusan dari empat jorong di nagari itu.
"Hanya empat unit rakik-rakik yang baru selesai dan satu lagi dalam proses pembuatan," katanya.
Ia mengatakan, tradisi rakik-rakik malam Idul Fitri sebagai tradisi warisan masyarakat salingka Danau Maninjau.
Rakik-rakik itu dihiasi dengan berbagai dekorasi dan diberi lampu, sehingga menjadi menarik dilihat.
Ini menjadi kebiasaan masyarakat, pemuda dan perantau yang pulang kampung.
"Kebahagiaan kami adalah di saat perantau pulang, bisa menikmati keindahan karya seni rakik-rakik ini dan membuat mereka senang dan bahagia. Kerinduan kampung halaman terobati dengan tradisi rakik-rakik ini. Kesan ini jelas akan selalu menjadi obat rindu dan memberi kesan terindah saat hendak kembali ke rantau," katanya.
Sementara Pegiat Wisata Danau Maninjau Rudi Yudistira menambahkan pada tahun ini ada dua nagari atau desa adat yang mengadakan tradisi rakik-rakik itu.
"Selain empat rakik-rakik di Nagari Maninjau, juga ada tiga rakik-rakik dari Nagari Tanjung Sani dan acara puncak pada Senin (02/05) malam," katanya.
Ia mengakui, tradisi ini bisa menarik kunjungan wisata ke daerah itu dan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Untuk itu, tradisi tersebut perlu dikemas sebaik mungkin ke depannya. (*)
Ketua Pemuda Jorong Bancah, Nagari Maninjau, Romi Pasla di Lubukbasung, Senin (2/5) mengatakan tradisi rakik-rakik dilaksanakan para pemuda yang merupakan utusan dari empat jorong di nagari itu.
"Hanya empat unit rakik-rakik yang baru selesai dan satu lagi dalam proses pembuatan," katanya.
Ia mengatakan, tradisi rakik-rakik malam Idul Fitri sebagai tradisi warisan masyarakat salingka Danau Maninjau.
Rakik-rakik itu dihiasi dengan berbagai dekorasi dan diberi lampu, sehingga menjadi menarik dilihat.
Ini menjadi kebiasaan masyarakat, pemuda dan perantau yang pulang kampung.
"Kebahagiaan kami adalah di saat perantau pulang, bisa menikmati keindahan karya seni rakik-rakik ini dan membuat mereka senang dan bahagia. Kerinduan kampung halaman terobati dengan tradisi rakik-rakik ini. Kesan ini jelas akan selalu menjadi obat rindu dan memberi kesan terindah saat hendak kembali ke rantau," katanya.
Sementara Pegiat Wisata Danau Maninjau Rudi Yudistira menambahkan pada tahun ini ada dua nagari atau desa adat yang mengadakan tradisi rakik-rakik itu.
"Selain empat rakik-rakik di Nagari Maninjau, juga ada tiga rakik-rakik dari Nagari Tanjung Sani dan acara puncak pada Senin (02/05) malam," katanya.
Ia mengakui, tradisi ini bisa menarik kunjungan wisata ke daerah itu dan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Untuk itu, tradisi tersebut perlu dikemas sebaik mungkin ke depannya. (*)
Pewarta : Yusrizal
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Masyarakat Danau Maninjau, Agam gelar Festival Rakik-rakik sambut Lebaran
22 April 2023 12:13 WIB, 2023
Unik, masyarakat Maninjau tampilkan rakik-rakik hiasan meriahkan malam takbiran Idul Fitri
13 May 2021 10:54 WIB, 2021
Kisah usaha kerupuk kacang Asyifa yang tetap eksis ditengah pandemi COVID-19 (Video)
03 November 2020 16:43 WIB, 2020
Terpopuler - Pariwisata
Lihat Juga
Wahana permainan mulai dibangun di objek wisata Pariaman semarakkan Piaman Barayo
28 February 2026 15:56 WIB