Padang (ANTARA) - Angin laut berhembus nakal mempermainkan rambut wisatawan yang baru saja turun dari kapal kecil di dermaga Pulau Pagang, Kamis (14/10) sekitar pukul 10.00 WIB. Namun tidak seorangpun yang peduli. Perhatian mereka sudah tersita oleh keindahan pulau mungil nan mempesona itu.

Pasir putih yang terhampar di sepanjang pantai. Air laut yang tenang dan jernih dan pepohonan rindang yang bisa menaungi saat tidur bermalas-malasan sungguh menggoda. Apalagi matahari menjelang siang masih terasa ramah, tidak terlalu panas.

Benar saja, setelah memesan cottage dan meletakkan barang, beberapa wisatawan yang baru datang itu berlarian menuju pantai, terjun menikmati perairan Pulau Pagang.

Mungkin nanti mereka juga akan menikmati banana boat, donat boat atau jet ski yang juga disediakan pengelola. Atau mungkin menikmati
snorkeling, berfoto di area terumbu karang.

Agak ke ujung pulau, beberapa orang sudah terlihat mencebur ke laut yang berwarna biru cerah, memantulkan warna pasir putih di dasarnya yang tidak terlalu dalam. Mereka adalah wisatawan yang ingin lebih dekat dengan alam, memanfaatkan area camping ground yang juga disediakan pengelola pulau.

Pengelola Pulau Pagang, Heru Farta mengatakan ada beberapa pilihan yang bisa dipilih wisatawan yang memutuskan untuk menginap di pulau di antaranya, cottage bersama seharga Rp1.3 juta per malam, VIP cottage Rp1,2 juta per malam, cottage backpacker Rp1 juta per malam, backpacker non AC Rp800 ribu per malam dan camping ground Rp50 ribu per orang.

Fasilitas itu dilengkapi pula dengan toilet umum yang cukup representatif dan bersih. Selesai mandi di laut, wisatawan bisa membilas diri di tempat itu. Sabun dan shampo sudah disediakan. Juga ada mushalla untuk wisatawan menunaikan ibadah.

Lebih ke ujung pulau, beberapa wisatawan tampak turun dari bukit kecil. Mungkin agak terlalu berlebihan disebut bukit, karena tempat itu hanya berupa gundukan setinggi tujuh atau delapan meter. Mendakinya tidak lebih dari 10 menit. Namun dari puncak bukit kecil itu pemandangan menjadi agak lepas.

Laut biru dan beberapa gugus pulau terlihat jelas. Itulah salah satu spot foto paling keren di Pulau Pagang, selain gugusan karang, gazebo dan beberapa bangku taman yang di susun fotogenik.

Bila ingin mencoba medan yang lebih menantang, bisa menyusuri jalur tracking di bukit setinggi 37 meter di belakang pulau. Jalur itu sebenarnya disediakan untuk evakuasi jika terjadi ancaman tsunami, namun bisa dinikmati untuk tracking bagi wisatawan.
  Kapal nelayan lewat di perairan Pulau Pagang, destinasi wisata pulau Sumbar yang juga pusat mitigasi bencana wisata pulau. (ANTARA/Miko Elfisha)
Menjelang siang, wisatawan itu menyudahi acara mandi di laut. Bersiap untuk bersantap siang. Wisatawan yang membeli paket wisata mendapatkan layanan makan siang dan malam dari perusahaan perjalan wisata.

Mereka yang di camping ground terlihat menyiapkan makanan sendiri. Namun ada sebagian yang pergi ke kafe yang merangkap kantor pengelola pulau. Memesan makanan dan minuman ringan.

Biasanya setelah makan siang adalah waktu untuk bermalas-malasan. Tidur-tiduran di pasir putih yang terpayungi bayang pepohonan. Ngobrol lepas sambil menikmati kelapa muda yang bisa dipesan pada pengelola pulau.

Juga mempersiapkan petualangan selanjutnya, karena untuk perjalanan “one day trip”, kapal akan menjemput wisatawan kembali pada pukul 16.00 WIB.

Namun untuk yang menginap, masih memiliki waktu panjang hingga esok sore untuk mengeksplorasi seluruh keindahan pulau, pantai, bawah laut dan terpenting lembayung senja Pulau Pagang.

Pusat mitigasi bencana

Pulau Pagang terletak di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Daerah yang disebut-sebut sebagai etalase bencana karena punya hampir semua potensi bencana yang ada mulai dari badai, tsunami di laut, gempa, banjir bandang, tanah longsor hingga letusan gunung berapi.

Karakter itu memaksa pemerintah daerah dan masyarakat untuk memahami mitigasi, upaya untuk mengurangi risiko bencana.

“Karena sebagian bencana tidak bisa dikendalikan oleh manusia, maka perlu mitigasi agar saat terjadi bencana, korban bisa diminimalkan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Sumbar, Erman Rahman.

Karena itu pula ia menginisiasi pembangunan Posko Penanggulangan Bencana (PB) Khusus Wisata Pulau di Pulau Pagang pada 2020 dan mulai beroperasi pada 2021. Posko itu sekaligus berfungsi sebagai Posko Patroli Keselamatan dan Pelayaran KSOP dan Posko Patroli Pol Air.

Posko itu dilengkapi pesawat radio yang terhubung ke Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB di Padang, KSOP dan Pol Air sehingga jika terjadi bencana di pulau wisata, informasi bisa cepat tersampaikan kepada pihak terkait untuk segera direspons secepatnya.

Radio tersebut juga terkoneksi dengan penggiat bencana seperti RAPI dan ORARI yang bisa menyebarluaskan informasi secepatnya untuk di tanggapi pihak terkait.
 
Pendirian Posko PB di Pulau Pagang karena pulau itu merupakan salah satu tempat wisata idola wisatawan dan ramai dikunjungi terutama pada saat liburan.

Tidak kurang 500 wisatawan datang menikmati keindahan pulau saat liburan. Jumlah itu biasanya bertambah beberapa kali lipat saat Lebaran. Meskipun dalam dua tahun pandemi COVID-19 jumlah kunjungan jauh menurun.

Pulau Pagang dengan luas sekitar 12 hektare itu juga memiliki bukit dengan ketinggian 37 meter dari permukaan laut yang cocok untuk tempat evakuasi bagi wisatawan jika terjadi tsunami. Karena tersedia tempat penginapan, pulau itu juga cocok untuk tempat evakuasi bagi wisatawan di pulau-pulau wisata di kawasan sekitar.
 
Untuk lebih memudahkan BPBD bekerja sama dengan pengelola pulau yang ditunjuk sebagai operator karena selalu stand by di lokasi setiap hari. Jika ditunjuk personel khusus untuk menetap di lokasi dikhawatirkan tidak bisa stand by 24 jam.

Selain itu juga disediakan kapal cepat untuk operasional sehingga jika diperlukan bisa dimanfaatkan untuk transportasi dan evakuasi.

Kehadiran Posko PB di Pulau Pagang, mampu memberikan rasa aman dan nyaman kepada wisatawan yang menghabiskan waktu di destinasi wisata itu.

Pulau Pagang yang menawan, yang berjarak sekitar 15 kilometer atau 40 menit perjalanan dari Sungai Pisang, Kota Padang menggunakan kapal milik nelayan atau milik perusahaan perjalanan wisata, kini tidak lagi sekadar destinasi wisata, tetapi juga pusat mitigasi wisata kepulauan.


 

Pewarta : Miko Elfisha
Editor : Mario Sofia Nasution
Copyright © ANTARA 2024