Iran Larang Dua Tokoh Mencalon Presiden
Rabu, 22 Mei 2013 11:04 WIB
Dubai, (Antara/Reuters) - Pihak berwenang pada Selasa mengeluarkan larangan terhadap dua tokoh yang berpotensi menjadi kandidat kuat pada pemilihan presiden bulan depan.
Langkah itu dilihat sebagai situasi yang menjamin bahwa pemilihan ersebut sebagian besar akan diikuti oleh mereka yang sangat loyal kepada pemimpin tertinggi.
Akbar Hashemi Rafsanjani, rekan veteran pendiri Republik Islam Iran yang juga merupakan mantan presiden yang berpihak kepada reformasi, ditolak pencalonannya oleh Dewan Wali ulama dan juri, kata media pemerintah.
Demikian juga yang terjadi dengan Esfandiar Rahim Mashaie, seorang pembantu dekat Presiden Mahmoud Ahmadinejad, yang pengikut-pengikut setianya telah berkompetisi dengan para pengikut Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Pelarangan terhadap kedua tokoh itu bisa membangkitkan kemarahan.
Mashaie pernah mengatakan bahwa ia akan naik banding dan di saat yang sama meminta para pendukungnya untuk tetap tenang.
Sebagian besar dari delapan calon yang akan bertarung pada 14 Juni mendatang merupakan sosok-sosok yang setia kepada Khamenei.
Mereka tampaknya ingin menghindari berulangnya kerusuhan yang terjadi setelah terpilihnya kembali Ahmadinejad pada tahun 2009, terutama pada saat Iran tengah mengalami masalah ekonomi, diplomatik serta konfrontasi dengan Barat, Israel dan negara-negara Arab.
Belum terlihat siapa calon terkuat dalam persaingan, yang saat ini termasuk Saeed Jalili --kepala juru runding program nuklir Iran, Ali Akbar Velayati --penasehat kebijakan luar negeri Khamenei dan Mohammad Baqer Qalibaf, walikota Teheran.
Dengan memburuknya perekonomian sebagai dampak dari sanksi-sanksi yang dikenakan Barat terkait sengketa nuklir, sejumlah kalangan di Iran menginginkan perubahan arah.
Sementara itu, masih ada dukungan kuat publik bagi para pemimpin reformis yang memperdebatkan kekalahan pada pemilihan empat tahun lalu dan saat ini berada di bawah penahanan rumah.
Sejumlah dukungan kemungkinan telah dialirkan kepada Rafsanjani (78 tahun), seorang sosok penting bersama-sama dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini selama Revolusi 1979.
Rafsanjani menjabat sebagai presiden dari tahun 1989 hingga 1997 dan pada tahun 2009 menuai kemarahan dari kalangan garis keras karena bersimpati kepada kalangan reformis selama kerusuhan terburuk yang terjadi sejak negara Iran terbentuk.
Dua dari anak-anak Rafsanjani baru-baru ini telah dipenjarakan.
Seperti Mashaie, Rafsanjani mendaftarkan pencalonannya pada saat-saat terakhir. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Polhukam
Lihat Juga
Legislator: Percepat Pembangunan Gedung Rehabilitasi Pecandu Narkoba
08 January 2018 18:30 WIB, 2018
Kapolres Padang Pastikan Pilkada Jadi Prioritas Pengamanan Tahun Ini
06 January 2018 14:03 WIB, 2018
Demi Rp100 Juta, Tiga Kurir Ini Nekat Bawa 1,3 Ton Ganja dari Aceh ke Jakarta
04 January 2018 19:49 WIB, 2018
Kejari Pesisir Selatan Nyatakan Tidak Pernah Terima Tembusan Diversi Lakalantas
04 January 2018 17:53 WIB, 2018