Presiden Iran nyatakan pembicaraan dengan AS hanya jika sanksi dicabut
Selasa, 27 Agustus 2019 19:05 WIB
Presiden Iran Hassan Rouhani pada Kamis, 22 Agustus 2019, mengatakan AS melanggar hukum internasional dengan penarikan diri sepihak dari kesepakatan nuklir 2015 dan mencapnya sebagai terorisme ekonomi (IRNA)
Dubai, Uni Emira Arab (ANTARA) - Iran tak memiliki keinginan untuk berbicara dengan Amerika Serikat kecuali semua sanksi yang dijatuhkan atas Iran dicabut, kata Presiden Hassan Rouhani pada Selasa.
Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan bertemu dengan timpalannya dari Iran guna mengakhiri sengketa nuklir.
"Teheran tak pernah menginginkan senjata nuklir," kata Rouhani dalam pidato yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi, sebagaimana dikutip Reuters --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa. Ia menambahkan negaranya sejak dulu selalu siap untuk mengadakan pembicaraan.
"Tapi pertama, AS mesti bertindak dengan mencabut sanksi tidak sah, tidak adil dan tidak jujur yang dijatuhkan atas Iran," ia menambahkan.'
"Kami akan terus mengurangi komitmen kami berdasarkan kesepakatan 2015 jika kepentingan kami tidak dijamin," katanya.
Pada Jumat (23/8) Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif membahas perincian usul Prancis untuk menurunkan ketegangan antara Iran dan AS dan kemudian terbang ke tempat pertemuan puncak G7 untuk melanjutkan pembicaraan itu. Zarif mengunjungi Kota Biarritz di Prancis, tempat para pemimpin G7 mengadakan pertemuan.
Zarif bukan hanya mengadakan pembicaraan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan menteri luar negerinya tapi juga dengan pemimpin Jerman dan Inggris, tiga penandatangan kesepakatan nuklir 2015, yang dikenal dengan nama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). (*)
Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan bertemu dengan timpalannya dari Iran guna mengakhiri sengketa nuklir.
"Teheran tak pernah menginginkan senjata nuklir," kata Rouhani dalam pidato yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi, sebagaimana dikutip Reuters --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa. Ia menambahkan negaranya sejak dulu selalu siap untuk mengadakan pembicaraan.
"Tapi pertama, AS mesti bertindak dengan mencabut sanksi tidak sah, tidak adil dan tidak jujur yang dijatuhkan atas Iran," ia menambahkan.'
"Kami akan terus mengurangi komitmen kami berdasarkan kesepakatan 2015 jika kepentingan kami tidak dijamin," katanya.
Pada Jumat (23/8) Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif membahas perincian usul Prancis untuk menurunkan ketegangan antara Iran dan AS dan kemudian terbang ke tempat pertemuan puncak G7 untuk melanjutkan pembicaraan itu. Zarif mengunjungi Kota Biarritz di Prancis, tempat para pemimpin G7 mengadakan pertemuan.
Zarif bukan hanya mengadakan pembicaraan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan menteri luar negerinya tapi juga dengan pemimpin Jerman dan Inggris, tiga penandatangan kesepakatan nuklir 2015, yang dikenal dengan nama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). (*)
Pewarta : Chaidar Abdullah
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tolak gagasan 'kesepakatan Trump' soal nuklir, Presiden Iran: tawaran 'aneh'
15 January 2020 17:34 WIB, 2020
Rouhani tegaskan rakyat Iran takkan tunduk pada persekongkolan 'musuh'
28 November 2019 11:41 WIB, 2019
Rouhani tegaskan tidak ingin berperang, tapi jika AS melanggar lagi berhadapan dengan Iran
26 June 2019 10:57 WIB, 2019
Iran tolak tawaran berunding Trump beberapa jam jelang berlakunya sanksi baru
07 August 2018 6:59 WIB, 2018