Setiap bulan ada 200 helai songket Unggan yang diproduksi
Jumat, 30 November 2018 13:35 WIB
Songket Unggan (ANTARA SUMBAR/Syahrul Rahmat/18)
Sijunjung, (Antaranews Sumbar) - Salah seorang pengusaha tenunan Songket Unggan yang berasal dari daerah Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Indrayeni mengatakan dalam waktu satu bulan pihaknya mampu memproduksi hingga 200 helai songket.
"Dalam waktu satu bulan, kami memproduksi lebih kurang 200 helai songket dari berbagai jenis," katanya di Sijunjung, Jumat.
Ia menyebutkan, dalam produksi tersebut 25 persen diantaranya adalah songket penuh motif, 25 persen semi songket dan 50 persen lainnya adalah songket yang akan digunakan sebagai bahan pakaian.
Dalam produksi ia melibatkan setidaknya 55 orang penenun dari beberapa nagari yang ada di daerahnya, seperti Nagari Unggan, Silantai, Sumpur Kudus dan Sumpur Kudus Selatan.
Tidak hanya perempuan, ia menuturkan, beberapa penenun tersebut diantaranya adalah laki-laki yang menjadi tahanan dalam lembaga pemasyarakatan (Lapas) di daerah setempat, setelah sebelumnya dibina untuk mengenal dan kemudian memiliki keahlian dalam menenun.
Sementara untuk harga yang ditentukan untuk songket-songket tersebut beragam. Menurut Indrayeni, untuk songket penuh motif dihargai mulai dari Rp1,5 juta hingga Rp4,5 juta rupiah.
Sementara untuk semi songket dihargai mulai dari Rp500 ribu hingga Rp2 juta rupiah dan untuk songket yang akan digunakan sebagai bahan baju dijual dengan harga mulai dari Rp350 ribu hingga Rp1.7 juta rupiah.
"Harga Rp1.7 juta untuk bahan sutra, harga Rp800 untuk bahan semi sutra, Rp350 ribu untuk bahan jenis poliester dan Rp350 ribu dan untuk bahan katun seharga Rp400 ribu rupiah," kata dia.
Ia menambahkan, untuk upah yang diterima oleh para penenun juga beragam, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp400 ribu rupiah per helai, tergantung dari bahan yang digunakan dalam menenun.
Untuk penjulan songket tersebut pihaknya juga memiliki rumah promosi ang berada di kawasan ibu kota kabupaten, yaitu di daerah Muaro Sijunjung.
"Nagari Unggan terbilang jauh dari ibu kota kabupaten, sehingga dibutuhkan rumah promosi di daerah keramaian," katanya.
Untuk meningkatkan penjualan hasil tenunan masyarakat tersebut, sebelumnya pemerintah setempat menggunakan Songket Unggan sebagai bahan pakaian ASN yang ada di daerah tersebut. (*)
"Dalam waktu satu bulan, kami memproduksi lebih kurang 200 helai songket dari berbagai jenis," katanya di Sijunjung, Jumat.
Ia menyebutkan, dalam produksi tersebut 25 persen diantaranya adalah songket penuh motif, 25 persen semi songket dan 50 persen lainnya adalah songket yang akan digunakan sebagai bahan pakaian.
Dalam produksi ia melibatkan setidaknya 55 orang penenun dari beberapa nagari yang ada di daerahnya, seperti Nagari Unggan, Silantai, Sumpur Kudus dan Sumpur Kudus Selatan.
Tidak hanya perempuan, ia menuturkan, beberapa penenun tersebut diantaranya adalah laki-laki yang menjadi tahanan dalam lembaga pemasyarakatan (Lapas) di daerah setempat, setelah sebelumnya dibina untuk mengenal dan kemudian memiliki keahlian dalam menenun.
Sementara untuk harga yang ditentukan untuk songket-songket tersebut beragam. Menurut Indrayeni, untuk songket penuh motif dihargai mulai dari Rp1,5 juta hingga Rp4,5 juta rupiah.
Sementara untuk semi songket dihargai mulai dari Rp500 ribu hingga Rp2 juta rupiah dan untuk songket yang akan digunakan sebagai bahan baju dijual dengan harga mulai dari Rp350 ribu hingga Rp1.7 juta rupiah.
"Harga Rp1.7 juta untuk bahan sutra, harga Rp800 untuk bahan semi sutra, Rp350 ribu untuk bahan jenis poliester dan Rp350 ribu dan untuk bahan katun seharga Rp400 ribu rupiah," kata dia.
Ia menambahkan, untuk upah yang diterima oleh para penenun juga beragam, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp400 ribu rupiah per helai, tergantung dari bahan yang digunakan dalam menenun.
Untuk penjulan songket tersebut pihaknya juga memiliki rumah promosi ang berada di kawasan ibu kota kabupaten, yaitu di daerah Muaro Sijunjung.
"Nagari Unggan terbilang jauh dari ibu kota kabupaten, sehingga dibutuhkan rumah promosi di daerah keramaian," katanya.
Untuk meningkatkan penjualan hasil tenunan masyarakat tersebut, sebelumnya pemerintah setempat menggunakan Songket Unggan sebagai bahan pakaian ASN yang ada di daerah tersebut. (*)
Pewarta : Syahrul Rahmat
Editor : Miko Elfisha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Lapas Lubuk Basung Agam kembangkan batok kelapa-plastik jadi kerajinan
10 December 2024 16:25 WIB, 2024
PLN IP UBP Bukitinggi salurkan bantuan usaha kerajinan enceng gondok ke Sadama Agam
27 August 2024 17:27 WIB, 2024
Sadama binaan PT PLN olah enceng gondok jadi kerajinan bernilai ekonomis
25 August 2024 13:42 WIB, 2024
Dekranasda Agam berkomitmen kembangkan usaha kerajinan tingkatkan ekonomi pelaku
21 June 2024 16:28 WIB, 2024
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Jumat (08/05/2026) pagi, emas Antam turun tipis Rp1.000 jadi Rp2,839 juta per gram
08 May 2026 9:43 WIB
Harga emas UBS-Antam-Galeri24 di Pegadaian Jumat (08/05/2026) pagi ini fluktuatif
08 May 2026 7:40 WIB