Medan, 24/4 (Antara) - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Sumatera Utara, berharap kepada masyarakat agar membeli produk makanan yang dianggap ramah lingkungan, dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi yang mengonsumsinya.
"Selain itu, harus tetap kritis terhadap produk yang dibeli dan apakah makanan tersebut telah terdaftar dan diregistrasi oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)," kata Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sumut Abubakar Siddik di Medan, Minggu.
Sebab, menurut dia, banyak produk berbagai makanan dari dalam dan luar negeri membanjiri super market, dan toko-toko makanan yang ada di tanah air, serta harus tetap diwaspadai.
"Masyarakat harus tetap bersikap kritis terhadap produk impor itu, dan jangan sampai salah membeli, sehingga dapat merugikan bagi konsumen tersebut. Hal ini harus benar-benar dijaga," ucap Abubakar.
Ia menyebutkan, dalam membeli makanan dari luar negeri, yakni Malaysia, Tiongkok dan negara lainnya harus benar-benar selektif melihat produk itu, apa ada terdapat tulisan "halal" dan "non- halal". Dan begitu juga batas berlakunya produk makanan tersebut.
Selain itu, harus melihat jenis produk makanan tersebut, karena bisa saja tidak sesuai dengan yang tertera/tertulis di luar dengan terdapat di dalam.
"Hal-hal yang seperti ini harus dihindari untuk mendapatkan makanan ramah lingkungan dan terjamin kesehatannya, serta juga sesuai dengan keinginan," katanya.
Abubakar juga meminta institusi dinas kesehatan dan petugas BPOM harus turun dan memantau ke lapangan, apa produk makanan yang dipasarkan itu sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Banyak ditemui produk makanan dari luar negeri yang dikemas dalam kaleng itu menampilkan berbagai aksesoris dan bentuk yang sangat menarik minat masyarakat untuk membelinya.
Produk makanan yang ditawarkan pada masyarakat itu, apa memang benar sudah melalui pemeriksaan oleh Kementerian Kesehatan dan BPOM, dan jangan sampai terjadi dugaan pemalsuan.
"Pemerintah juga harus dapat membatasi masuknya produk makanan dari luar negeri untuk menghindari terjadinya persaingan dengan produk lokal. Produk makanan Indonesia juga tidak kalah dengan negara asing," ucap Ketua YLKI itu.
Sebelumnya, Direktur Komunikasi dan Advokasi World Wildlife Fund (WWF) Indonesia Nyoman Iswarayoga berharap konsumen di Indonesia harus bersikap kritis terhadap produk-produk yang mereka beli apakah ramah lingkungan atau tidak.
"Konsumen adalah pihak yang memiliki kekuatan untuk membeli. Karena itu, konsumen perlu kritis produk yang dibeli ramah lingkungan atau tidak. Jangan lagi membeli tanpa berpikir," kata Nyoman dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis.
Karena itu, WWF bekerja sama dengan Unilever Indonesia dan Hypermart mengampanyekan program beli yang baik untuk mengajak konsumen lebih cermat dalam memilih kebutuhan sehari-hari.
Setidaknya, ada lima hal yang harus dipikirkan konsumen sebelum memutuskan membeli sebuah produk, yaitu fungsi sesuai kebutuhan, asal bahan baku yang digunakan, proses pembuatan, kontribusi terhadap lingkungan dan masyarakat serta kemasan yang dapat didaur ulang. *