Tatapan matanya menerawang jauh entah kemana, kosong dan hampa terlihat jelas di wajah bapak paruh baya ini. Bagaimana tidak, Nasri Batubara (50) warga Rabi Jonggor Kecamatan Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) sudah pergi kemana saja untuk minta bantuan pengobatan anaknya yang diduga menginap penyakit tumor. Namun, jangankan bantuan berupa uang, biaya untuk rujukan ke rumah sakit di Kota Padang saja tidak diperoleh.
Mawaddah (8), anak ke empat dari Nasri Baatubara (50) dan Epi Yuheni ((35) sudah merasakan kejanggalan pada tangan kiri hingga ke dada sejak dua tahun belakangan ini. Rasa sesak, sakit hingga meradang sering dirasakan Mawaddah pada tangan dan dadanya yang sudah mulai membengkak menjalar dari tangan hingga kedada.
"Sakit pak, dari tangan hingga kedada terasa pegal," kata Mawaddah dengan polosnya ketika ditemui antara-sumbar.com, Minggu (14/11). Namun, hanya itu yang bisa dikatakan anak ini sembari menghela nafas dan mata yang berkaca-kaca.
Nasri Batubara, ayah dari Mawadah ini juga tidak kalah sedihnya melihat kondisi anaknya yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Pengobatan kampung sudah kerap dilakukan terhadap anaknya namun pembengkakan dari tangan hingga kedada tak kunjung hilang.
"Sejak lahir sebenarnya sudah ada tanda-tanda kelainan pada anak saya namun kata-kata orang tua tidak masalah. baru dua tahun belakangan ini anak saya mengeluh merasakan sakit di tengan dan dadanya diikuti pembengkakan," kata Nasri.
Ketika pengobatan kampung tak kunjung menyembuhkan anaknya, maka Nasri Batubara mebawa anaknya ke Puskesmas terdekat dan dari puskemas dirujuk ke rumah sakit. Bahkan, dirinya memberanikan diri menemui Wakil Bupati Pasbar H Syahrul Dt Marajo untuk minta bantuan. Bantuan yang diharapkannya juga tidak kunjung datang, Wabup H Syahrul memberikan memo kepadanya untuk ditembuskan ke Dinas Kesehatan namun pihak Dinkes memberikan surat agar berobat ke RSUD Jambak.
"Saat itu saya langsung membawa anak saya ke RSUD namun setalah diperiksa oleh dokter rumah sakit dikatakannya anak saya mengidap tumor dan harus di rujuk ke RS Kota Padang karena peralatan dan tenaga RSUD tidak mencukupi," terang Nasri.
Mendengar rujukan tersebut dan biaya yang harus ditanggung membuat Nasri kelabakan dan harus mengadu entah kemana. Maklum, katanya dirinya saat ini juga tidak bekerja karena mengidap sesak nafas dan hanya istrinya yang bekerja di ladang.
"Saya memiliki kartu jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) dan surat keterangan miskin dari wali nagari serta kecamatan namun bantuan dari pemerintah daerah tidak pernah saya dapatkan. Ketika saya berusaha menemui bupati dan mengharapkan bantuan tidak kunjung dapat dan beragam alasan. Mau kemana saya harus mengadu?," tanya Nasri dengan mata yang berkaca-kaca.
Terkendalanya biaya untuk pengobatan anaknya inilah, Nasri saat ini hanya bisa pasrah dan berharap bantuan datang. Selain itu, ia juga sangat menyayangkan tidak adanya solusi jelas dari pemerintah karena sebagai orang miskin dirinya berhak memperoleh layanan kesehatan.
"Kalau tidak kepemerintah kepada siapa lagi kita mengadu. Namun, sudah berulangkali saya berusaha meminta bantuan namun berulang kali pula saya kecewa. Entah kemana saya harus mengadu," tanya Nasri dengan suara terbata-bata. (*/wij)