Logo Header Antaranews Sumbar

RS Korban Penyerangan Doa di Yogyakarta Dirahasiakan

Jumat, 30 Mei 2014 13:47 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Rumah sakit (RS) tempat korban penyerangan di malam persekutuan doa Rosario jemaat umat Kristiani Santo Fransicus Agung Gereja Banteng, yang dilaksanakan di Perum YKPN Tanjungsari Desa Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta dirahasiakan atas dasar keamanan. Menurut tuan rumah tempat malam doa tersebut dilaksanakan pada Kamis (29/5) malam, Julius Felicianus, kepada Antara di Jakarta, Jumat, lokasi rumah sakit tempat para korban dirawat inap sengaja dirahasiakan dengan alasan keamanan karena mereka sempat diancam akan dibunuh. "Maaf sekali, Mbak, saya nggak bisa kasih tahu karena ini terkait keamanan kami," kata Julius. Julius mengatakan pada serangan pertama yang terjadi pada Kamis malam sekitar pukul 20.00 WIB, terdapat dua pria dewasa yang menjadi korban dengan luka robek di kepala karena benda keras, empat perempuan dewasa yang dipukuli, dan satu anak yang digendong ayahnya ikut tersetrum. "Yang diopname dua pria dewasa itu dan satu anak yang ikut kesetrum waktu digendong lari oleh ayahnya," kata Julius melalui sambungan telepon. Sementara Julius sendiri merupakan korban penyerangan kedua dari kelompok yang sama, sekitar pukul 21.00 WIB, saat ia pulang dari kantornya, Penerbit Galangpress, di Sleman. Julius segera pulang dari kantornya setelah dihubungi anaknya yang menelepon terkait serangan di rumah mereka. Julius yang pulang bersama seorang kawan juga sempat melapor ke Polda DIY dan mengajak dua personel polisi sake lokasi kejadian. "Waktu saya pulang, suasana rumah sudah sepi, tapi lalu tiba-tiba delapan orang mengepung dan menanyai kami dari mana. Tahu bahwa dua orang yang saya ajak adalah polisi, mereka langsung menjadi-jadi menyerang polisi itu, tapi kedua polisi tersebut bisa menghindar," ujar Julius. Ketika Julius mengatakan dirinya adalah tuan rumah, kedelapan orang itu langsung mengeroyok dan menghajar pria berumur 54 tahun tersebut. "Mereka lalu mengangkat dua pot bunga dari semen yang segentong itu, lalu dilemparkan ke arah saya, yang pertama mengenai kepala yang kedua kena di bahu," ujar dia. "Dua polisi itu langsung menarik saya masuk rumah arena saya mau dibunuh. Pintu rumah dikunci, tapi kondisi di luar hancur berantakan," lanjut Julius. Dalam serangan tersebut, Julius juga melihat puluhan orang yang ia duga bagian dari delapan penyerang, berjaga di luar gerbang rumahnya. "Saya yakin lebih dari delapan orang, melihat kerusakan yang terjadi dan ada orang-orang yang berjaga-jaga di luar gerbang," kata dia. Saat ini, Julius yang menderita luka di kepala dan patah tulang bahu juga dirawat inap di rumah sakit yang sama dengan korban lainnya di Yogyakarta. Terkait penanganan kepolisian dalam kasus penyerangan tersebut, Julius mengatakan pihak Polda telah menanyainya soal kronologi kejadian dan berkata akan menyelidikinya lebih lanjut. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026