
Pengadilan Pidana Internasional Selidiki Kejahatan Perang di Afrika Tengah

Bangui, (Antara/AFP) - Tim pencari fakta Pengadilan Pidana Internasional (ICC) tiba di Bangui pada Kamis untuk memulai investigasi terkait rangkaian kekerasan yang terjadi terus-menerus di Republik Afrika Tengah selama 18 bulan terakhir. "Kejahatan perang yang berat telah terjadi di Afrika Tengah sejak 2012 lalu," kata kepala kerja sama internasional ICC, Amadi Bah dalam konferensi pers di ibu kota Afrika Tengah, Bangui. Konflik di Afrika Tengah dimulai pada 2012 saat gerilyawan Muslim Seleka memulai perlawanan bersenjata terhadap pemerintah dan berhasil menggulingkan Presiden Francois Bozize pada Maret tahun lalu. Sejumlah milisi Seleka kemudian menjadi liar dan kekejaman yang mereka lakukan membuat sebagian masyarakat Kristen--yang merupakan mayoritas--membentuk kelompok para militer tandingan anti-Balaka untuk melakukan aksi balas dendam. Sejak saat itu, ribuan orang tewas dan sekirat seperempat dari total populasi 4,6 juta kehilangan rumah. Konflik horizontal di negara itu juga memaksa pemerintahan bentukan gerilyawan Seleka membubarkan diri. Tim dari ICC akan menginvestigasi kemungkinan kejahatan perang yang dilakukan oleh mantan gerilyawan Seleka dan anggota milisi anti-Balaka. Keputusan untuk melakukan penyelidikan awal kekerasan di Afrika Tengah muncul pada Februari lalu, atau dua hari pasca peristiwa mutilasi di depan publik terhadap seorang mantan anggota Seleka sesaat setelah upacara militer yang dihadiri presiden sementara yang baru. Selain itu, sejumlah saksi mata juga melaporkan bahwa pada bulan ini mereka melihat sejumlah anak dilempar hidup-hidup ke tengah kobaran api. Sejumlah pengamat mengatakan bahwa laporan tersebut hanya merupakan puncak gunung es di tengah lautan karena peristiwa kekejaman yang terjadi di bagian terpencil di Afrika Tengah masih belum terpantau. Republik Afrika Tengah adalah negeri daratan dengan luas area yang lebih besar dari Prancis. Negara tersebut juga merupakan salah satu yang termiskin meskipun mempunyai cadangan kekayaan mineral besar. Sebanyak 8.000 personil militer dari pasukan penjaga perdamaian gabungan masih belum bisa menghentikan kekerasan di Afrika Tengah. Pada tahun ini, kekuatan mereka diharapkan dapat bertambah menjadi 12.000 tentara. (*/WIJ)
Pewarta: Antara TV
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026
