Logo Header Antaranews Sumbar

Konsultan: Perlambatan Ritel Jakarta Karena Moratorium Mal

Selasa, 22 April 2014 13:00 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Konsultan properti internasional Cushman & Wakefield mengemukakan, perlambatan sektor properti ritel yang terjadi di Jakarta, merupakan dampak dari diberlakukannya kebijakan moratorium (penghentian sementara) pembangunan mal atau pusat perbelanjaan. "Sebagaimana diketahui, di DKI ada pembatasan moratorium untuk ritel baru," kata Kepala Riset Cushman & Wakefield Arif Raharjo di Jakarta, Selasa. Menurut dia, kebijakan moratorium pusat belanja itu akan memperlambat pertumbuhan pasokan terutama guna mengatasi kemacetan di ibukota. Dampak dari moratorium mal itu antara lain pengembangan pusat perbelanjaan akan menyebar ke daerah-daerah penyangga Jakarta (Debotabek) di mana banyak proyek perumahan sedang dikembangkan. Selain itu, beberapa pusat belanja dengan kinerja kurang baik dan tingkat hunian yang rendah akan direnovasi total atau diubah menjadi fungsi lain seperti untuk hotel dan sekolah. "Indonesia, terutama Jakarta, masih tetap sebagai target ekspansi peritel internasional," ujarnya. Ia juga mengemukakan bahwa dengan terbatasnya pasokan yang ada, pemilik pusat belanja memiliki daya tawar yang lebih tinggi terhadap harga dan periode sewa. Berdasarkan data Cushman & Wakefield, pasokan riset kumulatif di Jakarta pada akhir kuartal I 2014 sedikit turun karena penutupan dua pusat belanja untuk renovasi, yaitu Taman Plaza Modern dan Mahaka Square (Kelapa Gading Sport Center). Sedangkan penambahan ruang ritel sepanjang kuartal I 2014 datang dari dibukanya Foodcentrum di Sunter, Jakarta Utara, dan perluasan Puri Indah Mal di Jakarta Barat. Dengan demikian, total pasokan ruang ritel di Jakarta menjadi 3.970.100 meter persegi yang terdiri atas 71,9 persen pusat ritel sewa dan 28,1 persen pusat belanja "strata-title". (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026