Logo Header Antaranews Sumbar

Tokoh Sosialis dan Militer Bertarung Dalam Pemilu Presiden Mesir

Senin, 21 April 2014 13:45 WIB
Image Print

Kairo, (Antara/AFP) - Pemilihan umum presiden di Mesir akan menampilkan pertarungan antara mantan komandan tentara yang menggulingkan pemerintahan kelompok Islam dengan tokoh kiri yang mengklaim diri mewakili aspirasi gerakan kebangkitan Arab 2011. Mantan kepala militer Abdul Fattah As-Sisi diperkirakan menjadi calon terkuat dalam pemilu yang akan dilakukan pada 26-27 Mai mendatang. Dia mengandalkan popularitas yang didapatkan setelah menggulingkan kekuasaan Muhammad Moursi. Satu-satunya rival Sisi adalah adalah Hamdin Sabbahi, yang pada 2012 lalu menempati urutan ketiga dalam pemilu yang dimenangkan oleh Moursi. Oleh pendukungnya, Sabbahi dinilai sebagai satu-satunya tokoh yang mewakili aspirasi mereka yang berjuang melawan kediktatoran rezim Huni Mubarok pada 2011 lalu. Sementara kelompok pendukung Moursi, Ikhwanul Muslimin, tidak dapat mengikuti kontes tersebut setelah pemerintah sementara Mesir memasukkan mereka dalam daftar hitam organisasi "teroris." Sejumlah tokoh dalam gerakan tersebut menyeru pengikutnya untuk memboikot pemilu. Gelaran pemilu Mesir tersebut dilakukan di tengah eskalasi kekerasan yang terus meningkat sejak penggulingan Moursi. Amnesti Internasional mengatakan bahwa lebih dari 1.400 orang tewas dan sekitar 15.000 lainnya dipenjara dalam serangkaian penumpasan pendukung Moursi oleh kepolisian negara. Korban juga timbul dari pihak kepolisian dan tentara di mana sekitar 500 anggota pasukan keamanan itu tewas oleh serangan kelompok militan. Absennya stabilitas keamanan inilah yang membuat Sisi yang berlatar belakang militer menjadi figur yang populer. Para pendukung menilai dia adalah pemimpin yang mampu membawa stabilitas untuk Mesir. Pemimpin dengan latar belakang militer memang mempunyai sejarang panjang di Mesir. Sejak kudeta tahun 1952, hanya satu presiden yang berasal dari kalangan sipil, yaitu Moursi. "Hari ini Mesir berada di persimpangan. Negara ini harus memilih antara kebebasan dan keadilan sosial--sebagai mana dicita-citakan oleh revolusi 2011--atau stabilitas," kata pengamat politik Gamal Abdul Awad. Sementara calon presiden lainnya Sabbahi berharapdapat meraup suara dari kelompok yang khawatir terhadap Sisi--yang dinilai dapat membawa Mesir kembali ke masa Mubarak. Pendukung Sabbahi menilai dia adalah titisan mantan presiden Gamal Abdul Nasser, tokoh sosialis anti-Barat yang menggulingkan kekuasaasn monarki pada 1952. Dalam pencalonannya, Sabbahi berhasil mengumpulkan 30.000 tanda tangan dengan dukungan partai Al-Dostour--yang didirikan oleh penerima hadiah Nobel Muhammad ElBaradei. Sebagai perbandingan, tanda tangan untuk Sisi mencapai 200.000. Dengan situasi di mana Sisi diperkirakan menang itu, sejumlah pengamat mengkhawatirkan ketidakjelasan sikap sang jenderal dalam sejumlah persoalan politik dan ekonomi. "Setelah masa transisi Mesir berakhir, Sisi harus mengambil tindakan untuk mengatasi berbagai masalah di negaranya. Namun sejauh ini, belum ada kejelasan sikap Sisi di luar tindakan penumpasan (pendukung Moursi) sejak Juli 2013," kata Michele Dunne dari Carnegie Endowment for International Peace. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026