
BPPT Diminta Audit Penggunaan BBM di Pelni

Jakarta, (Antara) - PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) meminta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengaudit penggunaan bahan bakar minyak kapal-kapal Pelni untuk mengurangi biaya energi yang telah mencapai Rp1,4 triliun per tahun. "Kami mengundang BPPT untuk melakukan audit sekaligus memberi jalan keluar untuk mengurangi besarnya biaya BBM yang kami keluarkan per tahun," kata Direktur Utama PT Pelni Syahril Japarin dalam penandatanganan Nota Kesepahaman antara PT Pelni dan BPPT di Jakarta, Kamis. Dikatakan Syahril, biaya operasional bahan bakar kapal-kapal penumpang Pelni sudah pada tingkat sangat tinggi meski merupakan BBM bersubsidi, yakni mencapai Rp1,4 triliun per tahun atau sekitar 60 persen dari total biaya operasional perusahaan. Ia mengakui, sebagian besar dari 24 kapal milik Pelni telah berusia tua, dengan usia paling tua lebih dari 30 tahun dan yang terbaru berusia enam tahun, yang dibeli pada 2008. "Kami telah berusaha menurunkan penggunaan BBM dengan menurunkan 'speed', tapi tetap saja. Kalau BPPT bisa menurunkan penggunaan BBM sampai 10 persen saja, kami sudah senang, karena 10 persen berarti Rp140 miliar. Apa lagi sampai 30 persen," katanya. Pihaknya juga meminta BPPT memberi solusi soal penyediaan air bersih di kapal yang juga berbiaya tinggi di mana kebutuhan air per unit kapal Pelni untuk satu kali perjalanan mencapai Rp200 juta hingga Rp300 juta. "Air yang dijual kepada kami sangat mahal. Meskipun Aerta menjual air ke pelabuhan hanya Rp14 ribu per m3, tapi pelabuhan menjual air kepada kami Rp40 ribu per m3, margin keuntungan mereka terlalu besar, ada baiknya kami punya alat pengolahan sendiri," katanya. Sementara itu Kepala BPPT Marzan A Iskandar mengatakan, pihaknya menargetkan penurunan biaya bahan bakar kapal hingga 30 persen, atau sekurangnya 10 persen, tergantung dari kasusnya. "Kami punya kapabilitas di bidang ini dan telah berpengalaman mengaudit penggunaan energi di beberapa perusahaan, misalnya di PLN. Ada kemiripan, tapi bedanya sekarang untuk benda bergerak yang berpengaruh pada efisiensi energi," katanya sambil menambahkan pihaknya telah menugaskan tujuh stafnya mengikuti pelayaran kapal Pelni. Sedangkan di bidang pengolahan air bersih, BPPT juga memiliki SDM yang berpengetahuan dan berpengalaman mengolah air kotor, air payau, atau air laut menjadi air bersih. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
