Logo Header Antaranews Sumbar

Dino Patti Akui Berat untuk Saingi Jokowi

Rabu, 9 April 2014 15:08 WIB
Image Print
Peserta konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat Dino Patti Djalal. (Antara)

Jakarta, (Antara) - Peserta konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat Dino Patti Djalal mengakui berat jika harus bersaing dengan kandidat calon Presiden Partai PDIP yang juga Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. "Itu berat. Walaupun dalam politik Indonesia tiga bulan itu 'long time'. Tapi saya optimistis bisa menciptakan gelombang," kata Dino saat akan menggunakan hak pilihnya di TPS 18 Jalan Melati Kelurahan Cilandak Timur Jakarta Selatan, Rabu. Dino yang menjadi duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat sejak 2010 itu memutuskan berhenti setelah memutuskan untuk maju di konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat. Ia mengaku dari awal ambisinya bukan untuk menang. Ia pun hanya mematok dana maksimal Rp2 miliar untuk modalnya melakukan kampanye. "Tapi dari awal saya harus menyebarkan konsep. Masih banyak hal-hal di kepala saya yang masih saya pikirkan dan ingin saya lakukan," ujar Dino. Dino menyebutkan beberapa program yang ia rancang antara lain santri global di Indonesia. Hal ini tercetus saat beberapa kunjungannya ke pesantren di beberapa wilayah Indonesia. "Banyak dari santri yang ingin belajar ke luar negeri tetapi tidak punya kesempatan. Saya ada ide mengumpulkan 100 santri dari 100 pesantren ke luar negeri lalu tinggal di rumah diospora Indonesia. Mereka nantinya belajar di luar negeri selama satu tahun," jelas Dino. Ia juga mengusulkan membangun monumen romusha di sekitar Goa Jepang di Bukittinggi, Sumatera Barat untuk mengenang para korban kerja paksa tentara Dai Nippon. "Itu untuk mengenang pengorbanan ratusan ribu romusha yang meninggal sebagai pahlawan. Masa yang ada justru patung tentara Jepang, kan aneh. Harusnya kita mengenang orang kita yang menjadi korban bukan tentara Jepang," ujar Dino. Selain itu Dino akan melanjutkan programnya mengumpulkan tokoh reformis hibrida-reformis horizontal. Sebelumnya ia telah mengumpulkan tujuh tokoh kepala daerah yang membawa perubahan dan inovatif dengan gaya masing-masing. "Reformis horizontal ini harus jalan terus. Nanti gelombang kedua akan dikumpulkan tujuh tokoh lagi dengan program suprementor yaitu pemimpin-pemimpin nasional yang sukses memberikan resep sukses mereka ke anak muda," kata Dino. "Target terbesar yaitu forum komunitas policy community semacam komunitas nasional pengamat, pelaku, siswa hubungan internasional. Saya melihat komunitas yang memperhatikan luar negeri sangat sedikit sekali apalagi secara mendalam dan berbobot," tambahnya. Saat ini Dino tengah sibuk keliling Indonesia seperti melakukan tur Jawa Timur, Jawa Barat dan akan melanjutkan tur ke Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. "Awalnya ada yang kenal dan nggak, tetapi sekarang sudah lumayan meskipun yang belum kenal dengan saya tetap ada," ujar Dino. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026