Logo Header Antaranews Sumbar

Ketuntasan Program Desa PAUD Capai 69,4 Persen

Senin, 24 Maret 2014 20:12 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Tingkat ketuntasan nasional program Satu Desa Satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencapai 69,4 persen hingga akhir 2013 atau 53.832 desa dari total 77.559 desa se-Indonesia. Direktur Jenderal PAUD Nonformal Informal (PAUDNI) Kemdikbud Lydia Freyani Hawadi kepada pers di Jakarta, Senin, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menempati posisi teratas dalam program Satu Desa Satu PAUD. Seluruh desa di provinsi tersebut telah memiliki PAUD, atau tercapai 100 persen. Posisi kedua diikuti oleh Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang mencapai 99,6 persen. "Sebanyak 27 provinsi telah memiliki tingkat ketuntasan PAUD di atas 50 persen. Artinya, lebih dari separuh jumlah desa di provinsi tersebut telah memiliki PAUD," katanya. Sedangkan provinsi yang tingkat ketuntasannya masih di bawah 50 persen yaitu Maluku Utara, Kalimantan Barat, Maluku, Aceh, Papua, dan Papua Barat. "Kendala geografis menjadi salah satu kendala penuntasan program PAUD di provinsi-provinsi tersebut," katanya. Untuk memacu program Satu Desa Satu PAUD di provinsi yang tingkat ketuntasannya masih minim, Direktorat Jenderal PAUDNI memiliki sejumlah strategi, antara lain, merangkul sejumlah organisasi mitra yang memiliki daya jangkau hingga ke daerah terpencil. "Pada tahun 2013, kami bekerja sama dengan TNI Angkatan Darat, dan TNI Angkatan laut untuk membantu membangun PAUD di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal," ujarnya. Selain itu, Direktorat Jenderal PAUDNI juga akan memberdayakan rumah ibadah sebagai lokasi pengembangan program PAUD. "Program PAUD ini tidak bisa dilaksanakan seorang diri oleh pemerintah pusat. "Kami butuh peran serta masyarakat, swasta, organisasi agama, termasuk peran media massa," katanya. Lebih lanjut Lydia Freyani memaparkan bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD pun naik dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004, APK PAUD masih 24,75 persen, namun pada akhir 2013 naik menjadi 68,1 persen dan tahun 2014, pihaknya menargetkan APK PAUD sebesar 72 persen. Peningkatan APK PAUD tercermin dari jumlah lembaga PAUD yang terus bertambah setiap tahun. Hingga bulan Desember 2013, jumlah lembaga PAUD mencapai 174.367 lembaga se- Indonesia. Dari jumlah tersebut, Taman Kanak-kanak (TK) menempati posisi teratas, atau sebanyak 74.487 TK, lalu diikuti Kelompok Bermain sebanyak 70.477. Sedangkan Satuan PAUD sejenis mencapai 26.269 lembaga. "Hingga akhir tahun 2014 tercatat ada 3.134 Taman Penitipan Anak," katanya. Direktorat Jenderal PAUDNI akan memprioritaskan program PAUD sebab di tahun 2045, atau pada 100 tahun usia kemerdekaan, Indonesia akan mengalami bonus demografi. Pada periode tersebut, Indonesia akan memiliki banyak pemuda-pemudi yang penuh potensi. Calon-calon pemimpin di tahun 2045 adalah anak-anak PAUD saat ini. "Oleh karena itu, PAUD adalah investasi yang harus kita pupuk sejak saat ini," ucap Direktur Jenderal. Berdasarkan survei nasional BPS pada tahun 2010, anak usia 0-9 tahun telah mencapai 45,93 juta jiwa. Pada tahun 2045, anak-anak tersebut akan berusia 35-44 tahun. Oleh karena itu program PAUD sangat penting untuk menyiapkan anak-anak menjadi calon pemimpin di masa mendatang. "Usia dini merupakan masa keemasan (the golden age) seorang anak. Fase tersebut juga menjadi periode yang sangat penting dalam perkembangan fisik dan mental seorang manusia. Tumbuh kembang anak pada usia dini sangat menentukan kualitas kecerdasan, kesehatan, dan kematangan emosional di masa mendatang," tambahnya. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026