Logo Header Antaranews Sumbar

Bentrokan Baru Pecah di Ukraina, Buyarkan Gencatan Senjata

Kamis, 20 Februari 2014 17:45 WIB
Image Print

Kiev, (Antara/AFP) - Pengunjuk rasa bersenjata menyerbu barikade polisi di Kiev pada Kamis, sehingga menewaskan satu orang dan membuyarkan kesepakatan gencatan senjata. Sementara para menteri luar negeri Uni Eropa membatalkan pertemuan dengan Presiden Ukraina. Pengunjuk rasa yang mengenakan masker melemparkan batu dan bom molotov ke arah pasukan anti huru-hara di Lapangan Independence Kiev, pusat aksi selama tiga bulan krisis politik di negara bekas Uni Soviet itu. Pengunjuk rasa berhasil mendesak mundur polisi hingga 200 meter dan mengambil alih kembali seluruh lapangan yang telah mereka duduki sejak November itu. Polisi menggunakan peluru karet untuk membalas serangan dan mengklaim bahwa seorang penembak jitu telah melukai 20 petugas polisi dengan melepaskan peluru tajam dari jendela sebuah bangunan yang menghadap ke lapangan. Menurut seorang fotografer AFP, peluru tajam digunakan dalam bentrokan tersebut dan ia menyaksikan selongsong peluru berserakan di tanah meski tidak diketahui pihak mana yang menggunakannya. Bentrokan tersebut membuyarkan gencatan senjata antara Presiden Viktor Yanukovych dengan oposisi hanya beberapa jam sebelumnya, menyusul insiden berdarah yang menewaskan lebih dari dua lusin orang dalam waktu kurang dari dua hari. Yanukovych dijadwalkan menggelar pertemuan dengan menlu Prancis, Jerman, dan Polandia di Kiev pada Kamis, namun para menlu membatalkan rencana itu karena masalah keamanan. "Pertemuan tidak dilakukan dengan alasan keamanan dan ditunda. Seluruh Kiev tidak aman," kata pejabat Barat kepada AFP. Sebelumnya, Prancis mengatakan bahwa UE bersiap untuk mengenakan sanksi terhadap pemerintah Ukraina atas kekerasan yang terjadi, dalam pertemuan di Brussel pada Kamis. Yanukovych berupaya memformulasikan kebijakan jelas dalam beberapa hari terakhir, yang menyaksikan kekerasan paling buruk sejak kemerdekaan Ukraina dan memanasnya perang kata-kata antara Barat dan Moskow terkait masa depan negara yang berada di antara UE dan Rusia itu.Korban Tewas Bertambah Menyusul bentrokan pada Kamis, wartawan AFP menyaksikan tubuh seorang pengunjuk rasa dengan luka tembak dibawa masuk ke lobi sebuah hotel dekat Lapangan Independence. Setidaknya 10 orang lainnya terluka. Sebelum pecahnya bentrokan tersebut, Kementerian Kesehatan Ukraina mengatakan kekerasan di negara itu telah menewaskan 28 orang sejak Selasa dan hampir 300 orang dirawat di rumah sakit. Krisis tersebut dipicu oleh keputusan mengejutkan Yanukovych pada November untuk mengorbankan hubungan dagang dan kesepakatan politik dengan UE demi menjalin hubungan lebih dekat dengan Kremlin. Namun keputusan itu memantik gerakan anti-pemerintah baik di wilayah barat yang pro-Barat dan wilayah timur yang lebih dekat dengan Rusia. Yanukovych pada Rabu siang menunjukkan keseriusan untuk mengakhiri krisis itu setelah badan keamanan negara mengumumkan rencana melancarkan operasi anti-teror dan ia memecat pucuk pimpinan angkatan darat --figur berpengaruh yang dipuji pihak oposisi karena menolak mendukung penggunaan kekuatan melawan mereka yang beraksi di jalanan. Namun ia kemudian menerima tiga pemimpin unjuk rasa dan mengatakan bahwa ia tidak akan mengambil tindakan segera terhadap mereka yang turun ke jalan menentang pemerintahannya. Petinju karismatik yang sudah menjadi anggota parlemen Vitali Klitschko mengatakan bahwa Yanukovych berjanji untuk tidak memerintahkan polisi menyerbu lapangan yang menjadi pusat aksi. "Pada intinya, kami berbicara mengenai gencatan senjata," kata Klitschko. "Sekarang kami akan melihat apakah setelah semua ancaman sanksi Barat itu, Yanukovych akan menunaikan janjinya." Presiden AS Barack Obama menyatakan menyambut baik gencatan senjata antara pemerintah dengan pengunjuk rasa jalanan jika itu dijalankan. Langkah pembubaran unjuk rasa menuai kecaman dari Barat sementara Kremlin menyebutnya sebagai upaya kudeta oleh pengunjuk rasa. Kementerian Luar Negeri AS mengumumkan, memberlakukan larangan visa terhadap sekitar 20 pejabat senior Ukraina yang terlibat atau bertanggung jawab memerintahkan atau mengarahkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Tekanan Barat siap ditingkatkan pada Kamis saat UE mempertimbangkan langkah-langkahnya dalam pertemuan di Brussels. Menjelang pertemuan, Menlu Prancis Laurent Fabius mengatakan kepada Europe 1 bahwa ia akan mendesak Yanukovych "untuk menghentikan kekerasan yang jelas-jelas tidak bisa diterima dan kami bersiap untuk mengenakan sanksi terhadap mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan itu." Sementara Moskow justru mengutuk aksi para pengunjuk rasa dan pihak Barat. Jurubicara Presiden Vladimir Putin menuding, tanggung jawab atas kekerasan itu ada di pihak ekstremis yang aksinya dilihat oleh Moskow sebagai upaya kudeta. Kepala gabungan NATO Anders Fogh Rasmussen membalas komentar itu dan mengatakan bahwa ia akan mendesak pemerintah Ukraina menahan diri dari aksi kekerasan lebih lanjut -- komentar yang menempatkan Yanukovych secara pribadi sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kerusuhan itu. Rusia juga menyatakan telah mengirim Wakil Perdana Menteri Dmitry Rogozin -- figur yang dikenal dengan pandangan nasionalisnya -- ke Kiev pada Kamis untuk "memberi dorongan yang sesuai bagi hubungan kami" dengan Ukraina. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026