Logo Header Antaranews Sumbar

MILF, MNLF Terlibat Bentrokan Baru di Kotabato Utara

Minggu, 21 Juli 2013 16:18 WIB
Image Print

Carmen, Kotabato Utara, (Antara/PNA-0ANA) - Gerilyawan Moro, yang bersaing, pada Minggu bentrok di desa terpencil di kota Kidapawan, membuat beberapa keluarga untuk sementara meninggalkan rumah mereka, kata miliiter di Carmen. Kapten Antonio Bulao, berbicara untuk Brigade Infanteri 602, mengatakan pertempuran satu jam itu melibatkan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) dan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF). Tidak ada korban dilaporkan di kedua sisi, namun Bulao mengatakan dari pukul 08.00 waktu setempat terjadi pertempuran sekitar satu kilometer dari bagian jalan raya nasional di Barangay Patadon, Kidapawan City. Bulao mengatakan konfrontasi bersenjata pada Minggu antara kedua kelompok tersebut masih menjadi bagian dari konflik yang melibatkan kelompok yang sama di kota Matalam terdekat, juga di Cotabato Utara. Dia mengatakan pada sekitar pukul 05.00, Batalyon Infantri ke-57 Angkatan Darat mengamati tentang massa sekitar 100 tentara MILF dekat Barangay Patadon di mana MNLF dan keluarga mereka hendak memanen jagung dan tanaman lainnya. Bulao juga mengatakan bahwa MNLF pertama kali mempelajari gangguan yang direncanakan oleh MILF. Kemudian MNLF mengirim pengikut bersenjata di desa Patadon. Pasukan MILF mundur setelah mantan anggota Kongres Jimmy Matalam mengimbau Komandan Nuh Sabel dari pangkalan ke-108 MILF. Pasukan MNLF sudah dianggap sebagai bagian dari pemerintah setelah para pemimpinnya menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah pada 1996, sedangkan MILF masih melakukan perundingan damai dengan Manila. Mei lalu, pasukan MILF dan MNLF bentrok di Barangay Marbel, Matalam, Cotabato Utara berkaitan dengan sengketa tanah. Bulao mengatakan konflik di Matalam, yang sekarang meningkat ke desa-desa di Kidapawan, bukanlah konflik organisasi tetapi lebih dari sengketa tanah yang melibatkan keluarga Moro yang memiliki hubungan dengan gerakan revolusioner. (*/wij)



Pewarta:
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026