Logo Header Antaranews Sumbar

PBB Seru Myanmar Akhiri Konflik Setelah Bentrokan Baru

Senin, 21 Januari 2013 16:03 WIB
Image Print

Yangon, (ANTARA/AFP) - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon menyerukan agar Myanmar berupaya serius mengakhiri konflik yang berkecamuk di bagian utara Myanmar, tempat pemberontak etnis minoritas Kachin menuduh militer melanggar gencatan senjata. Pemerintah reformis Perdana Menteri Thein Sein pada Jumat mengumumkan pihaknya mengakhiri serangan militer terhadap pemberontak Kachin tetapi pertempuran terbaru meletus selama akhir pekan. Ban "menyeru kedua pihak melakukan upaya serius guna menciptakan kondisi untuk perdamaian berkelanjutan di Kachin melalui langkah-langkah peningkatan membangun kepercayaan dan dialog politik," kata PBB dalam satu pernyataan yang dikeluarkan di New York pada Minggu. Sementara itu puluhan aktivis perdamaian, Senin, memulai dengan rencana berjalan 1.300 kilometer (800 mil) dari Yangon ke kubu pemberontak Laiza untuk menyerukan diakhirinya konflik. Yan Naing Tun, seorang pemimpin aktivis, mengatakan dia terdorong untuk membuat perjalanan panjang setelah belajar dari "efek perang yang mengerikan dan kesulitan yang dihadapi para korban perang". "Perjalanan itu menunjukkan pengorbanan kami," katanya, dan menambahkan bahwa kelompok tersebut diperkirakan melakukan perjalanan selama hampir dua bulan. "Kami khawatir tentang keamanan kami, tetapi lebih penting untuk menghentikan perang saudara dan untuk mendapatkan ketenangan," katanya. Serangan-serangan udara militer terhadap pemberontak Tentara Pembebasan Kachin (KIA) memicu kecemasan internasional, meskipun belum ada laporan serangan udara sejak pemerintah bersumpah melakukan gencatan senjata. Pemberontak pada Minggu mengatakan militer sedang berjuang untuk merebut kembali kontrol puncak bukit penting secara strategis yang terletak hanya beberapa kilometer jauhnya dari kantor pusat KIA di Laiza, dan menggunakan artileri serta pasukan darat. Para pemberontak Kachin belum mengumumkan gencatan senjata mereka sendiri, dan mengatakan bahwa setiap perundingan juga harus memenuhi tuntutan mereka untuk hak-hak politik yang lebih besar. Puluhan ribu orang telah mengungsi di negara bagian Kachin sejak Juni 2011, ketika satu gencatan senjata berumur 17-tahun antara pemerintah dan KIA pecah. Kuasi-pemerintah sipil Myanmar telah mencapai gencatan senjata sementara dengan jumlah kelompok pemberontak etnik sejak mengambil kekuasaan di awal tahun 2011, namun beberapa putaran pembicaraan dengan pemberontak Kachin telah gagal mencapai terobosan. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026