Logo Header Antaranews Sumbar

Daging Lokal Turun Akibat Membanjirnya Pasokan Malaysia

Sabtu, 15 Februari 2014 13:33 WIB
Image Print

Nunukan, (Antara) - Harga daging sapi lokal di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara sejak beberapa bulan terakhir turun dari Rp95.000 menjadi Rp85.000 per kilogram akibat membanjirnya pasokan daging beku dari Malaysia. Abdul Haris, pedagang daging di Pasar Yamaker, Kabupaten Nunukan di Nunukan, Sabtu mengatakan, daging lokal di daerah itu hanya dapat dijual paling tinggi Rp85.000 per kilogram akibat membanjirnya daging beku asal Tawau Malaysia. Ia mengaku terpaksa mengurangi stok daging lokal sehubungan dengan rendahnya nilai jual di pasaran yang disebabkan semakin banyaknya beredar daging asal negara tetangga dan berkurangnya daya beli masyarakat setempat. "Sejak beberapa bulan terakhir ini, saya kurangi persediaan daging sapi lokal karena daging dari Tawau kembali membanjiri pasar di Nunukan," kata dia. Abdul Haris mengaku dalam sepekan hanya menyembelih tiga sampai lima ekor sapi saja, karena harus disesuaikan dengan permintaan pelanggannya terhadap daging lokal. Rendahnya harga daging lokal di daerah itu, sebut dia, disebabkan harga daging beku asal Tawau hanya pada kisaran Rp70.000 per kilogram dan lebih banyak diminati pembeli. Ia menyatakan, pada saat daging beku dari negara tetangga dilarang oleh pemerintah daerah setempat masuk ke Nunukan, harga daging lokal mencapai Rp95.000 per kilogram. Menurut dia, selama harga daging lokal pada kisaran Rp85.000 per kilogram keuntungan yang diperoleh dalam satu ekor sapi lokal maksimal Rp800.000. Siti Nurjanah, pedagang daging lainnya di Nunukan juga mengeluhkan rendahnya harga daging sapi lokal akibat membanjirnya daging sapi beku dari Tawau Malaysia. "Daging lokal kalah bersaing dengan daging beku asal Tawau yang harganya lebih mudah dan diminati para pembeli," ujarnya. Sementara harga sapi lokal dibeli seharga Rp7 juta per ekor, itupun perlu perhitungan yang sangat matang agar tidak merugi, ujar dia. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026