
Mahasiswa Unjuk Rasa di Venezuela Menentang Pemerintah

Karakas, (Antara/AFP) - Sekitar 2.000 mahasiswa kembali turun ke jalan-jalan ibu kota Venezuela,Karakas Kamis untuk memperotes pemerintah kiri, dalam tantangan terbesar terhadap Presiden Nicolas Maduro sejak ia berkuasa menggantikan Hugo Chavez almarhum tahun lalu. Amerika Serikat mengatakan pihaknya "terganggu" dan "cemas" setelah demonstrasi-demonstrasi tandingan Rabu yang menimbulkan korban jiwa, yang memicu Maduro memerintahkan penangkapan seorang pemimpin senior oposisi dan mengumumkan ia tidak akan digulingkan dalam satu kudeta. Tetapi para mahasiswa berdemonstrasi di Karakas untuk hari kedua Kamis, meneriakkan: "Siapakah kita? Mahasiswa!Apa yang ingin kita lakukan? Kebebasan!" Mahasiswa,yang didukung oposisi, meningkatkan tekanan pada Maduro, menyerukan segera bertindak terhadap kejahatan yang merajalela, inflasi dan kekurangan barang-barang kebutuhan pokok. Pemerintahnya mendesak rakyat berdemonstrasi dalam unjuk rasa "anti-fasisme",tetapi hanya sedikit para pendukung yang hadir. Henrique Capriles, yang ikut pemilihan presiden menghadapi Maduro pada tahun lalu , mengatakan satu kudeta mungkin akan terjadi. "Kami akan menyuarakan ketidakpuasan kami, tetapi saya tidak akan membohongi anda, kondisi tidak tepat bagi pengunduran diri pemerintah," katanya kepada wartawan mengenai bentrokan Rabu antara kelompok pro dan anti pemerintah. Seorang pengunjukrasa pro-pemerintah dan dua mahasiswa oposisi yang ikut dalam protes itu tewas dalam aksi kekerasan yang menyebabkan tindakan keras pasukan keamanan di kota-kota seluruh negara itu di mana ekonomi dilanda inflasi lebih dari 50 persen setahun. Sementara itu kelompok a asasi manusia Human Rights Watch (HRW) yang bermarkas di AS mendesak pihak berwenang Venezuela "segera dan tanpa berpihak" menyelidiki aksi kekerasan itu, sementara Departemen Luar Negeri mengatakan: "Kami terganggu oleh aksi kekerasan dalam protes-protes 12 Februari. "Kami sangat prihatin tentang laporan-laporan bahwa pemerintah Venezuela baru-baru ini menahan sejumlah pemrotes anti-pemerintah, dan perintah penangkapan yang dikeluarkan terhadap pemimpin oposisi dan pendiri Voluntad Popular,Leopoldo Lopez. "Kami mendesak semua pihak mencegah terjadina aksi kekerasan." Jose Miguel Vivanco, direktur AS HRW , mengatakan dbentrokan-bentrokan Rabu itu "yang sangat diperlukan Venezuela adalah pembunuhan-pembunuhan ini diselidiki dan para pembunuh diadili, tanpa memandang afiliasi politik mereka." Pemerintah memerintahkan penangkapan Lopez, 42 tahun, kata surat kabar El Universal, yang menyiarkan foto yang menunjukkan perintah penangkapan itu. Lopez, seorang mantan wali kota dari sah satu dari lima kotapraja Karakas dan kini seorang tokoh terkenal oosisi, dituduh terlibat pembunuhan dan persekongkolan. Setidaknya 80 orang ditahan dalam protes Rabu termasuk seorang juru foto dan pewarta yang meliput demonstrasi, kata perhimpunan wartawan. Saluran televisi Kolombia NTN24, yang memberitakan unjuk rasa secara mendalam, tidak mengudara. Venezuela-- dengan satu pemerintah sosialis yang tergantung pada pendapatan minyak dalam sistem yang dikuasai negara-- merupakan salah satu dari negara-negara yang memiliki cadangan minyak mentah terbesar dunia. (*/WIJ)
Pewarta: Antara TV
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026
