
KSPI Nilai Komponen KHL Ternyata Tidak Layak

Jakarta, (Antara) - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengatakan nilai komponen Kebutuhan Hidup Layak (KHL) ternyata tidak mendukung kehidupan layak bagi buruh sehingga harus ada upaya merevisi aturan itu termasuk menambah komponen KHL dari 60 komponen menjadi 84 komponen. "Apakah masih layak 10 kilogram beras untuk makan satu bulan? Sangat tidak layak. Demikian juga lima potong ikan segar dan 0,75 kilogram daging untuk satu bulan. Jadi nilai komponen-komponen itu harus kita perbaiki" kata Presiden KSPI Said Iqbal usai bertemu dengan Sekjen Industri ALL Global Union Jyrki Raina di Jakarta, Jumat. Selain soal nilai komponen KHL, KSPI juga mengajukan penambahan menjadi 84 item KHL antara lain untuk jam tangan, televisi, dompet, payung, perumahan tipe 36, kipas angin, bedak dan lipstik, transportasi, pulsa, dan koran untuk baca harian. "Hampir seluruh masyarakat Indonesia membutuhkan televisi untuk mendapatkan informasi. Jadi itu harus masuk komponen KHL," tegasnya. Selain itu, penentuan nilai KHL Dewan Pengupahan oleh Pengusaha dan Pemerintah, berbeda dengan KHL yang dilakukan unsur buruh walaupun sama-sama menggunakan perhitungan 60 item kebutuhan dasar. Ia menjelaskan, pengusaha menggunakan perhitungan regresi yang nilainya kecil, sedangkan buruh menggunakan proyeksi kebutuhan tahun 2014 karena memperhitungkan angka inflasi tahun berjalan. Sementara itu, Sekjen Industri ALL Global Union Jyrki Raina mendukung penuh kampanye upah layak bagi buruh termasuk juga jaminan sosial dan kesehatan, serta menghapuskan pekerja alih daya atau outsourcing. Industri ALL Global Union yang beranggotakan 50 juta pekerja di 140 negara merupakan kekuatan baru dalam solidaritas global yang memperjuangkan kondisi kerja yang lebih baik dan hak-hak serikat buruh di seluruh dunia. (*/WIJ)
Pewarta: Antara TV
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026
