Logo Header Antaranews Sumbar

Diplomat Iran Cedera Parah Setelah Serangan Atas Kedutaan di Yaman

Sabtu, 18 Januari 2014 19:46 WIB
Image Print

Sanaa, (Antara/Reuters/AFP) - Sejumlah pria bersenjata melepaskan tembakan ke kedutaan besar Iran di dekat kediaman duta besarnya di Sanaa, ibu kota Yaman, pada Sabtu, mencederai seorang diplomat, kata sumber keamanan. Duta besar Iran tidak berada di dalam mobil saat serangan tersebut terjadi, kata sumber itu. Saluran berbahasa Arab Al Jazirah melaporkan seorang diplomat meninggal, tetapi sumber keamanan mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa diplomat itu menderita luka parah. Para penembak, yang tak diketahui jumlahnya, melarikan diri dan belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Iran merupakan kekuatan muslim Syiah yang menonjol di Timur Tengah dan misi-misi diplomatiknya di dunia Arab telah beberapa kali menjadi sasaran-sasaran serangan sementara kekerasan antarsekte merebak di kawasan itu. Persaingan yang dilatari persaingan antara kelompok Houthi yang Syiah dan kelompok Salafi dari Sunni telah meningkat di bagian utara Yaman beberapa bulan terakhir. Sedikitnya 210 orang meninggal dalam kekerasan itu. Kekerasan itu meletus pada 30 Oktober ketika gerilyawan Houthi, yang mengendalikan banyak kawasan di Provinsi Saada, di bagian utara Yaman, menuduh kelompok Salafi di kota Damaj merekrut ribuan pejuang asing untuk mempersiapkan serangan terhadap mereka. Pertempuran antara kedua pihak di Saada dan provinsi-provinsi di dekatnya berhenti ketika gencatan senjata berlaku sepekan lalu. Persetujuan itu memberikan kepada kelompok Salafi empat hari untuk pindah sekitar 250 kilomter baratdaya ke pelabuhan Laut Merah Hudaida. Pasukan pemerintah mulai digelar di Provinsi Saada, Yaman utara, pada Sabtu (11/1) untuk mengawasi gencatan senjata gerilyawan Syiah dengan kelompok Salafi Sunni, yang berhaluan keras, kata pejabat keamanan. Perjanjian itu, yang ditengahi pada Jumat malam oleh komisi kepresidenan, menghentikan pertempuran sejak akhir Oktober, yang terpusat di masjid Salafi dan sekolah agama di kota Dammaj. Tetapi konflik yang menelan korban jiwa itu meluas di provinsi-provinsi utara, yang melibatkan kelompok Salafi yang marah pada kekuatan gerilyawan Houthi Syiah, yang dituduh menerima dukungan dari Iran. Perjanjian itu menetapkan kedua pihak akan mundur dari daerah-daerah sekitar Dammaj untuk ditempatkan oleh pasukan militer yang akan memantau gencatan senjata itu, kata Yahya Abu Isba, ketua komisi penengah kepresidenan. "Perjanjian ini mengakhiri konflik militer antara kelompok Houthi dan Salafi di Dammaj dan mencegah perang sektarian yang telah berlangsung di Yaman," katanya di televisi pemerintah. Houthi, yang berasal dari nama pemimpin (almarhum) Abdel Maleks al-Houthi, adalah bagian dari masyarakat Syiah Zaidi. Mereka bangkit tahu 2002 di pangkalan mereka Saada melawan pemerintah mantan presiden Ali Abdullah Saleh, menuduh pemerintah itu mengabaikan mereka. Mereka menuduh kelompok Sunni di Dammaj menjadikan kota itu pusat "satu barak riil bagi ribuan para warga asing yang bersenjata", mengacu pada Sekolah Dar al-Hadith Koranic di mana para warga asing menuntut ilmu. Yaman menyatakan pihaknya mulai memindahkan sekelompok Salafi keluar dari benteng mereka di bagian utara pada Selasa. Persaingan itu telah membayangi usaha-usaha rekonsiliasi di Yaman, sekutu Amerika Serikat, yang merupakan rumah bagi salah satu sayap pasukan Al Qaida yang berfaham Sunni. Negara itu, yang dilanda pergolakan sejak aksi rakyat menggulingkan Presiden ali Abdullah saleh pada 2011, juga menghadapi pemisahan diri di bagian selatannya dan krisis ekonomi. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026