Logo Header Antaranews Sumbar

Kelompok Sinai Akui Pemboman Kantor Polisi Mesir

Kamis, 26 Desember 2013 05:41 WIB
Image Print

Kairo, (Antara/Reuters) - Ansar Bayt al-Maqdis, sebuah kelompok militan yang bermarkas di Sinai, hari Rabu menyatakan bertanggung jawab atas serangan terhadap kantor polisi Mesir di kota Delta Nil, Mansoura, yang menewaskan 16 orang dan mencederai sekitar 140. Pemerintah Mesir yang didukung militer Selasa berjanji memerangi "terorisme hitam" dan mengatakan, serangan 24 Desember itu tidak akan mengacaukan rencana peralihan politik yang langkah selanjutnya adalah referendum Januari mengenai konstitusi baru. Ansar Bayt al-Maqdis menuduh "penguasa Mesir memerangi legitimasi Islam dan menumpahkan darah Muslim yang tertindas" dan menyebut kompleks kepolisian itu sebagai "sarang kemurtadan dan tirani". "Kami akan terus, insya Allah, memerangi mereka," kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan yang dipasang di situs berita kelompok garis keras. Ansar Bayt al-Maqdis, yang namanya berarti "Pendukung Yerusalem", sebelumnya mengklaim bertanggung jawab atas serangan pembunuhan yang gagal terhadap menteri dalam negeri di Kairo pada September. Militan meningkatkan serangan terhadap pasukan keamanan setelah militer menggulingkan Presiden Mesir Mohamed Morsi pada 3 Juli. Penumpasan militan yang dilakukan kemudian di Mesir menewaskan ratusan orang dan lebih dari 2.000 ditangkap di berbagai penjuru negara itu. Kekacauan meluas sejak penggulingan Presiden Hosni Mubarak dalam pemberontakan rakyat 2011 dan militan meningkatkan serangan-serangan terhadap pasukan keamanan, terutama di Sinai di perbatasan dengan Israel. Militan-militan garis keras yang diyakini terkait dengan Al Qaida memiliki pangkalan di kawasan gurun Sinai yang berpenduduk jarang, kadang bekerja sama dengan penyelundup lokal Badui dan pejuang Palestina dari Gaza. Militan di Sinai, sebuah daerah gurun di dekat perbatasan Mesir dengan Israel dan Jalur Gaza, menyerang pos-pos pemeriksaan keamanan dan sasaran lain hampir setiap hari sejak militer menggulingkan Presiden Mohamed Morsi pada 3 Juli. Sumber-sumber militer memperkirakan, terdapat sekitar 1.000 militan bersenjata di Sinai, banyak dari mereka orang suku Badui, yang terpecah ke dalam sejumlah kelompok dengan ideologi berbeda atau loyalitas suku, dan sulit untuk melacak mereka di daerah gurun itu. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026