Padang Panjang (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kota Padang Panjang pada minggu keempat Januari 2026 sebesar -5,39 persen, masuk kategori fluktuasi rendah dan menurun dibandingkan minggu sebelumnya yang tercatat -4,86 persen.
Penurunan IPH tersebut terutama dipengaruhi oleh turunnya harga sejumlah komoditas utama, seperti cabai merah, pisang, dan bawang merah.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setdako Padang Panjang, Rini Samirawati, mengatakan penurunan harga cabai merah disebabkan meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi di sekitar Padang Panjang yang mulai memasuki masa panen.
“Namun demikian, penurunan harga tetap perlu dikendalikan agar tidak merugikan petani. Harga harus dijaga agar tidak melewati Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan Pemerintah Pusat,” katanya.
Rini menjelaskan, inflasi Kota Padang Panjang pada Desember 2025 masih mengacu pada inflasi Kota Bukittinggi, yakni sebesar 4,99 persen (year on year/yoy), meningkat dibandingkan November 2025 yang berada di angka 3,96 persen. Sementara secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 1,48 persen (month to month/mtm).
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Setdako Padang Panjang, Alvi Sena, mengatakan pemerintah kota terus memperkuat langkah-langkah pengendalian inflasi daerah.
“Inflasi daerah tidak bisa dilepaskan dari dinamika nasional, terutama sektor pangan dan komoditas strategis,” ujarnya.
Ia menambahkan, arahan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian terkait pengendalian inflasi yang difokuskan pada kelompok pengeluaran yang berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat menjadi perhatian utama Pemkot Padang Panjang dalam menjaga stabilitas harga.
Selain sektor pangan, Mendagri juga menyoroti kenaikan harga emas perhiasan yang turut berkontribusi terhadap inflasi seiring lonjakan harga emas dunia yang mencapai rekor tertinggi dan berdampak pada Indeks Harga Konsumen (IHK). (*)
