
BPPT Kembangkan SRF di Bantaeng

Bantaeng, Sulsel, (Antara) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi bersama Pemerintah Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, mengembangkan produksi pupuk lepas lambat (SRF) yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman. "SRF memiliki keunggulan dibanding pupuk yang selama ini beredar di pasaran dan harganya bisa lebih bersaing," Kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bantaeng Abdul Gani kepada wartawan yang meninjau lokasi pabrik SRF di Bantaeng, Rabu. Menurutnya, pemkabnya gandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk mengembangkan teknologi pupuk yang lebih baik sehingga bisa memberi manfaat bagi petani dan meningkatkan produktivitas. SRF, katanya, sama seperti pupuk lain yang memiliki kandungan Nitrogen, Phosfat, dan Kalium (NPK). Tapi SRF memiliki campuran NPK yang bisa disesuaikan karakteristik lahan dengan kebutuhan petani. "Pupuk yang ada selama ini jika disebar akan cepat diserap tanaman tapi SRF tidak mudah diserap tanaman dan akan diserap jilka tanaman memang membutuhkan," katanya. Menurut rencana operasional resmi pabrik SRF dilakukan 7 Desember 2013, dengan kapasitas produksi 10 ribu ton per tahun. Tapi nanti kalau hasilnya bagus dan diminati konsumen bisa ditingkatkan jadi 100 ribu ton per tahun. Selain diperuntukkan untuk padi dan hortikultura, SRF juga bisa digunakan sebagai pakan ikan. Pabrik SRF di Bantaeng itu memiliki lahan seluas dua hektare dengan menyerap investasi Rp7 miliar, yang mesinnya berasal dari BPPT. Pembangunan pabrik SRF tersebut, katanya, dilakukan di lahan marjinal yang selama ini tidak produktif. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
