Logo Header Antaranews Sumbar

MojaoArt transformasikan Songket Silungkang masuk ke trend fashion Gen Z

Senin, 13 Oktober 2025 11:36 WIB
Image Print
Penyanyi Diva Aurelle tampil pada malam puncak SISSCa 2025 dengan memakai kostum songket Silungkang kontemporer yang didesain dan dijahit oleh MojaoArt, yang memang menyasar target market Gen Z. (Antarasumbar/HO-dokumentasi tim Sawahlunto Maju)

Sawahlunto (ANTARA) - Brand lokal MojaoArt asal Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, menjadi contoh bagaimana warisan budaya seperti Songket Silungkang beradaptasi dengan gaya hidup generasi muda dengan desain modern dan strategi digital yang menghidupkan kembali tradisi agar tetap relevan bagi Gen Z.

Pemilik sekaligus desainer MojaoArt, Arindha Sukma, dihubungi dari Sawahlunto, Senin menyebut tantangan utama bagi UMKM mode fashion berbasis tradisi adalah bagaimana membuat generasi muda merasa dekat dan relate dengan produk yang sarat nilai sejarah.

“Gen Z suka yang praktis, berkarakter, dan visualnya menarik. Tugas kami adalah menerjemahkan keindahan songket menjadi gaya yang modern, tapi tetap punya spirit budaya,” kata dia.

Arindha menjelaskan bahwa MojaoArt mempertahankan teknik dan motif tenun asli Silungkang, namun menghadirkannya dengan potongan yang lebih simpel, warna kekinian, dan gaya yang mudah dipadupadankan.

Melalui media sosial, MojaoArt tidak sekadar menjual produk, tetapi juga mengangkat kisah di balik tiap helai tenunan seperti tentang penenun, proses, dan filosofi motifnya.

"Kami ingin anak muda bukan hanya membeli pakaian, tapi juga memahami cerita di baliknya. Saat mereka tahu maknanya, kebanggaan memakai songket tumbuh dengan sendirinya,” katanya.

Tren ini sejalan dengan riset Jurnal Ekonomi dan Retail UMI (2024) yang mencatat 63 persen Gen Z Indonesia lebih memilih produk mode lokal yang memiliki nilai budaya dan keberlanjutan dibanding barang impor.

Sementara laporan Vogue Business (2024) menegaskan bahwa tren fashion etnik digital-friendly meningkat hingga 28 persen per tahun di platform seperti TikTok dan Instagram.

Selain mengangkat nilai estetika, MojaoArt turut menjaga keberlanjutan ekonomi pengrajin Silungkang. Setiap rancangan baru melibatkan penenun lokal agar inovasi modern tidak menghapus peran generasi tua yang menjaga tradisi.

Arindha berharap dukungan pemerintah terus hadir, terutama dalam pelatihan branding digital dan fasilitasi ruang pamer bagi UMKM lokal.

“Bantuan modal itu penting, tapi akses dan pendampingan jauh lebih krusial agar produk budaya bisa menembus pasar nasional,” katanya.

Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra menyatakan pihaknya terus membuka ruang bagi pelaku UMKM kreatif seperti MojaoArt untuk tumbuh dan memperluas jaringan. Menurutnya, songket dan produk turunannya adalah bagian dari identitas lokal yang harus didorong agar menjadi kekuatan ekonomi baru kota itu.

"Pemerintah Kota Sawahlunto terus memfasilitasi pameran UMKM, event promosi, serta pelatihan pemasaran agar pelaku usaha muda punya ruang berkembang. Nilai budaya seperti Songket Silungkang tidak boleh berhenti di museum, tapi harus hidup di keseharian anak muda,” kata dia.

Ia menambahkan, langkah tersebut sejalan dengan visi Astacita Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan penguatan ekonomi rakyat berbasis budaya daerah dan industri kreatif.

Transformasi Songket Silungkang melalui MojaoArt membuktikan bahwa tradisi tidak harus kalah oleh modernitas. Di tangan generasi muda yang kreatif dan sadar budaya, warisan leluhur itu justru menemukan bentuk baru ; menjadi ekspresi gaya hidup, kebanggaan, dan identitas bangsa di era digital.



Pewarta:
Uploader: Jefri Doni
COPYRIGHT © ANTARA 2026