Logo Header Antaranews Sumbar

Ranjau Darat Lukai Tiga Tentara Prancis di Mali

Kamis, 21 November 2013 06:06 WIB
Image Print

Bamako, (Antara/AFP) - Tiga tentara Prancis Rabu terluka di Mali utara yang diduduki pemberontak saat truk mereka melindas ranjau darat, kata sumber militer. "Sebuah kendaraan tentara Prancis dihantam oleh ledakan kemungkinan disebabkan oleh bom, sebuah ranjau saat kendaraan itu melaju pada sekitar pukul 01.00 waktu setempat Rabu. Tiga tentara Prancis terluka tetapi hidup mereka tidak dalam bahaya," kata seorang sumber keamanan Mali kepada AFP . Insiden di kota Kidal dan penyebabnya dikonfirmasi oleh seorang pejabat senior dari Operasi Serval, intervensi militer yang dipimpin Prancis yang diluncurkan pada Januari untuk mengusir gerilyawan yang telah menduduki Mali utara. Ia mengatakan para korban dirawat di Gao, kota terbesar diMali utara. Ledakan itu terjadi sepekan setelah demonstran Tuareg meletakkan sampah ke bangunan publik di Kidal sebagai protes atas keputusan para pemimpin separatis untuk mengakhiri pendudukan gedung negara. Orang-orang muda membakar bagian dari kantor gubernur dan merampok kas umum dan fasilitas pendidikan negara yang ada di dekatnya, menurut para saksi mata. Para separatis Gerakan Nasional untuk Pembebasan Azawad (MNLA)dua pekan lalu berjanji untuk meninggalkan kantor gubernur dan stasiun radio, sejalan dengan ketentuan perjanjian perdamaian Januari. Kesepakatan yang ditandatangani di ibu kota Burkina Faso, Ouagadougou, membuka jalan bagi pemilihan presiden yang akan diselenggarakan di Kidal bersama dengan sebagian negara Afrika barat yang bergolak dalam dua putaran pada Juli dan Agustus. Sampai dengan perjanjian tersebut, MNLA - yang tujuan utamanya adalah kemerdekaan Azawad, nama yang Tuareg berikan kepada tanah air mereka di bagian utara Mali - telah menolak untuk mengizinkan setiap prajurit pemerintahatau pegawai negeri sipil untuk ke kota gurun itu. Pada Januari 2012, MNLA meluncurkan pemberontakan untuk mengambil kendali dari utara. Sebuah kudeta berikutnya di ibu kota Mali Bamako menyebabkan kekacauan, dan kalangan garis keras bersenjata terkait dengan Al-Qaida menguasai Tuareg dan menyitakontrol bagian utara Mali. Operasi Prancis mengusir garis keras, namun serangan-serangan sporadis terus berlangsung, mengakibatkan penculikan dan pembunuhan dua wartawan Prancis pada 2 November dan permintaan otonomi Tuareg belum diselesaikan. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026