
Muhaimin: Lulusan PT Harus Dilengkapi Keterampilan Kerja

Jakarta, (Antara) - Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar berharap Perguruan Tinggi mampu mencetak lulusan yang kompeten dan berdaya saing dalam pasar kerja menjelang diberlakukannya Komunitas Ekonomi Asean (AEC/ASEAN Economy Community) tahun 2015. "Pemerintah terus mendorong lulusan pendidikan bersiap menjadi tenaga kerja yang berkemampuan tinggi untuk memasuki pasar kerja global yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan pekerja," kata Menakertrans di Jakarta, Minggu (20/10), usai memberikan Orasi Ilmiah dalam Wisuda ke-66 Universitas Sultan Agung (Unisulla) Semarang. Selain memiliki keterampilan kerja yang memadai, Muhaimin menuntut para lulusan pendidikan tinggi di Indonesia mampu menguasai pengetahuan dan teknologi dalam menghadapi era persaingan bebas. Semua lembaga pendidikan dan pelatihan diharapkan memberikan bekal berupa "hardskills" dan "softskills" yang memadai sehingga lulusannya dapat bersaing dalam mencari pekerjaan yang layak dalam menghadapi AEC 2015. Hardskills antara lain berupa ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan teknis yang sesuai dengan bidang ilmunya, sedangkan softskills adalah kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain yang menjadikannya mampu mengembangkan kerja secara maksimal. Kedua kemampuan itu, lanjut Muhaimin, sangat dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan tidak hanya bagi individu dan organisasi, tapi juga bagi bangsa dalam pembangunan sosial ekonominya. Saat ini ada tiga isu strategis dalam dunia ketenagakerjaan di Indonesia yaitu rendahnya kualitas angkatan kerja sehingga tidak memiliki daya saing, besarnya jumlah pengangguran akibat tidak seimbangnya persediaan tenaga kerja dengan jumlah kebutuhan tenaga kerja dan terbatasnya kesempatan kerja. Untuk mengatasi ketiga isu tersebut, pemerintah mengambil kebijakan mendorong terciptanya kesempatan kerja yang layak (ada perlindungan dan jaminan sosial), mendorong terciptanya kesempatan kerja yang luas. Selain itu juga meningkatkan kondisi dan mekanisme hubungan industrial, menyempurnakan dan melaksanakan peraturan ketenagakerjaan, meningkatkan kompetensi, menciptakan kesempatan kerja melalui program pemerintah, serta mengembangkan kebijakan pendukung pasar kerja melalui informasi pasar kerja. "Untuk menghasilkan tenaga kerja terampil dan profesional, kita harus membangun sistem atau mekanisme agar dunia pendidikan dan pelatihan memperkuat kelembagaan diklat, meningkatkan kualitas pelatihan dan meningkatkan koordinasi antarlembaga penanggung jawab kebijakan lembaga diklat," jelas Muhaimin. Dalam menghadapi persaingan, Muhaimin mengakui SDM yang dimiliki saat ini kondisinya masih memerlukan perhatian serius. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Mei 2013, jumlah angkatan kerja Indonesia sebanyak 121,2 juta, dimana 47,90 persen atau sejumlah 54,6 juta orang berpendidikan SD ke bawah. Selain itu, jumlah pengangguran terbuka masih cukup tinggi yakni 7,2 juta orang atau sekitar 5,92 persen. Menakertrans juga mengakui saat ini sistem pendidikan dan pelatihan belum optimal bersinergi dengan pasar. "Untuk bisa bersaing di pasar global dan dalam negeri, lulusan pendidikan dan pelatihan perlu diberikan bekal tambahan antara lain melalui program pemagangan atau pelatihan langsung di tempat kerja," kata Muhaimin. (*/WIJ)
Pewarta: Antara TV
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026
