Logo Header Antaranews Sumbar

Forum masyarakat awasi pembangunan Sabo Dam di lokasi bencana Agam

Senin, 10 Agustus 2026 13:06 WIB
Image Print
Proyek Sabo Dam di lereng Gunung Marapi, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Pengerjaan proyek antisipasi bencana ini sedang berjalan dan mendapat pengawasan dari masyarakat setempat. ANTARA/AL FATAH

Bukittinggi (ANTARA) - Perkumpulan masyarakat dari Forum Peduli Canduang Koto Laweh (FPCKL) menyoroti pelaksanaan Proyek Sabo Dam di Batang (Sungai) Jabua Nagari Canduang Koto Laweh Kecamatan Canduang Kabupaten Agam.

Proyek strategis sebagai antisipasi bencana berulang banjir bandang dan longsor dari hulu Gunung Marapi itu diawasi masyarakat agar berjalan maksimal demi keselamatan warga di sepanjang aliran.

"Berdasarkan informasi dan data yang kami terima, proses pembetonan di proyek Sabo Dam mempergunakan Beton Ready Mixed, namun sesuai hasil pantauan kami di lapangan pihak kontraktor pelaksana melaksanakan proses pembetonan dengan sistem Site Mixed," kata perwakilan FPCKL, Budi Anda, Senin.

Ia mengatakan masyarakat membutuhkan penjelasan terkait penggantian sistem pembetonan ini karena hal ini dapat mempengaruhi akan mutu dari beton terkait.

"Hal ini pernah kami pertanyakan secara langsung kepada pihak kontraktor, mereka menyampaikan penggantian sistem adukan beton dikarenakan kondisi medan yang tidak bisa dilalui oleh mobil molen Ready Mixed," kata Budi Anda.

Menurutnya, jawaban dari kontraktor pelaksana perlu dipertanyakan dikarenakan sesuai pantauan di lapangan kondisi medan dapat dilalui oleh mobil molen Ready Mixed minimal isi 3m3.

"Bahwa juga dalam item pekerjaan terdapat salah satu item yaitu pengecoran jalan inspeksi, namun pihak kontraktor belum melaksanakan item pekerjaan tersebut," katanya.

FPCKL mengaku telah menyampaikan surat tertulis langsung ke Balai Pengawas Sungai (BWS) wilayah V Sumatera Barat dan ditembuskan ke Pemda Agam, Pemprov Sumbar, Konsultan Pengawas dan Kuasa KSO PT. Subur Berkah sebagai pelaksana proyek.

Sementara itu, Pihak Kontraktor memastikan pekerjaan sesuai prosedur dan spesifikasi teknis, menurut

penanggung jawab Kualitas Konsultan KSO PT. Subur Berkah Legino, pengerjaan diperbolehkan menggunakan Ready Mixed maupun Site Mix.

"Proyek ini menggunakan metode Site Mixed di mana material seperti pasir, kerikil, semen, dan air dicampur dan diolah langsung di lokasi proyek sebelum dituangkan," kata Legino.

Pihak kontraktor memastikan bahwa mutu beton yang dihasilkan tetap terjaga dan sesuai standar. Proyek ini menggunakan mutu beton K-225. Sebelum pengecoran dilakukan, pihak proyek rutin mengambil sampel berbentuk silinder yang diuji di tiga tempat berbeda guna menjaga kualitas.

Tenaga Ahli K3 Kontraktor PT. Subur Berkah, Mashelrita menambahkan terkait material setempat (seperti batu atau pasir lokal), pihak kontraktor menegaskan bahwa penggunaannya harus melalui proses perizinan resmi terlebih dahulu.

"Karena pengurusan izin memakan waktu yang cukup lama, pihak kontraktor sepenuhnya menggunakan material dari supplier berizin yang sah demi kelancaran dan legalitas proyek," katanya.

Menjawab keluhan warga terkait akses jalan, pihak kontraktor menjelaskan bahwa jalur utama masyarakat yang terdampak proyek telah diperbaiki. Bahkan, pihak pengembang telah membuatkan jalan akses sementara di sekitar lokasi agar aktivitas warga tetap berjalan lancar selama masa pengerjaan.

Pihak K3 proyek juga menegaskan bahwa standar keselamatan kerja bagi para pekerja maupun lingkungan sekitar dijaga secara ketat. Sepanjang proyek berjalan dari bulan Desember hingga saat ini, belum pernah terjadi insiden kecelakaan kerja berkat penerapan standar operasional prosedur (SOP) keselamatan yang tinggi.

"Pihak kontraktor, konsultan pengawas, beserta jajaran BWS Sumatera V berkomitmen penuh untuk terus menjaga kualitas mutu bangunan serta keselamatan kerja demi menghindari dampak buruk bagi masyarakat sekitar," katanya mengakhiri.



Pewarta:
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026