Logo Header Antaranews Sumbar

PBB: Misi Pemelihara Perdamaian Semakin Kompleks

Jumat, 18 Oktober 2013 05:39 WIB
Image Print

Beijing, (Antara) - Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Misi Pemeliharaan Perdamaian Herve Ladsous mengatakan, misi pemeliharaan perdamaian (peace keeping operation/PKO) di masa datang semakin kompleks. "Karena itu diperlukan kerja sama antarnegara kontributor untuk saling bertukar pengalaman dan berlatih bersama," katanya dalam pertemuan keenam para ahli PKO dalam kerangka ASEAN Regional Forum di Beijing, Kamis. Ia mengatakan kompleksnya misi pemeliharaan perdamaian yang diemban PBB tidak saja karena cakupan wilayah konflik yang dihadapi, melainkan juga persoalan yang melatari konflik itu juga semakin kompleks. "Karena itu, masing-masing negara kontributor harus saling bekerja sama, berlatih untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuannya dalam menghadapi berbagai kompleksitas yang dihadapi," kata Ladsous menegaskan. Tahun 2013 merupakan peringatan 65 tahun Operasi Pemeliharaan Perdamaian PBB. Terkait itu negara-negara yang tergabung dalam ASEAN Regional Forum saling bekerja sama dan mendukung dalam misi perdamaian multinasional. Berdasar keterangan Kementerian Luar Negeri RI Peacekeeping Operations (PKO)/Misi Pemeliharaan Perdamaian (MPP) merupakan "flagship enterprise" dari PBB dalam rangka turut menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Per 31 Maret 2013, tercatat sekitar 92.541 personil baik militer, polisi, maupun sipil yang berpartisipasi di 14 misi. Saat ini, PBB menghadapi tantangan dalam menutup kesenjangan antara supply dan demand dalam MPP. Dilihat dari perkembangan jumlah pasukan perdamaian Indonesia di PBB, terdapat peningkatan signifikan keterlibatan Indonesia setelah akhir tahun 2006 dengan pengiriman ke UNIFIL. Pra-pengiriman Pasukan Indonesia ke UNIFIL (sebelum tahun 2006), total personil Indonesia hanya berada pada level 300-an peacekeepers (posisi 44 dunia). Hingga Maret 2013, Indonesia menduduki peringkat 16 dari 116 negara dalam daftar kontributor OPP PBB dengan 1.730 personil (data PBB per 31 Maret 2013). Kontribusi tersebut terdiri dari 173 polisi, 22 UNMEM (UN Military Experts on Mission) military observers, dan 1.535 personil militer di 7 misi yaitu UNIFIL (1.187, Lebanon), UNMISS (9, Sudan Selatan), UNISFA (2, Abyei, Sudan), UNAMID (165, Darfur), MONUSCO (189, Republik Demokratik Kongo), UNMIL (1, Liberia), dan MINUSTAH (177, Haiti). Peningkatan kontribusi pasukan Indonesia tidak hanya terlihat dalam jumlah personil, namun juga penambahan performance unit. Pada April 2013, Indonesia telah mengirimkan korvetnya, KRI Diponegoro, untuk bergabung dalam Maritime Task Force (MTF) UNIFIL. Ini adalah kali kelima partisipasi dalam MTF setelah KRI Diponegoro (April 2009), KRI Kaisiepo (Agustus 2010), KRI Sultan Iskandar Muda (September 2011), dan KRI Hasanuddin (Mei 2012)(*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026