
Apegti: Usut Merembesnya Gula Rafinasi

Jakarta, (Antara) - Asosiasi Pengusaha Gula Terigu Indonesia (Apegti) minta Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian mengusut merembesnya gula rafinasi ke pasar konsumsi, mengingat kondisi itu menyebabkan gula petani tidak terserap oleh pasar. Ketua Apegti Natsir Mansyur dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa, menyebutkan, alasan yang ditengarai menjadi penyebab persoalan tersebut karena Kementerian Perindustrian yang bertindak sebagai pemberi rekomendasi impor bahan baku untuk industri gula rafinasi yang jumlahnya kurang lebih mencapai 2,2 juta ton, diimpor oleh delapan perusahaan industri gula rafinasi (GKR). Pemberian impor sebesar itu, kata Mansyur, berpotensi menyebabkan perembesan mencapai 500 ribu ton, terutama industri gula rafinasi yang belokasi di Makassar. "Dari Industri yang di Makassar itu sering merembes ke pasar konsumsi karena kapasitas produksi 400 ribu ton, sedangkan kebutuhan industri makanan minuman hanya 150 ribu ton, jadi potensi merembesnya 250 ribu ton ke pasar umum, sehingga menggangu pasar gula kristal putih (GKP) produksi petani, ini kan sangat ironis," katanya. Menurut Apegti, perembesan gula rafinasi itu sudah terjadi selama tiga tahun terakhir, tapi pihaknya menyayangkan Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan cenderung melakukan pembiaran setiap tahun, dengan tidak memberikan hukuman kepada industri gula rafinasi yang produksinya merembes ke pasar umum. Di lain pihak, kata Natsir, urusan impor raw sugar ini juga setiap tahun diamini oleh DPR-RI komisi 6 dan disetujui oleh Kemenko Perekonomian, sehingga gula produksi PTPN menjadi korban dan gula petani tidak bisa diserap pasar.Aksi Demo Pernyataan Natsir tersebut menanggapi aksi demo ribuan petani tebu seluruh Indonesia di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), di Jalan Ridwan Rais, Jakarta, dengan berorasi dan menumpahkan 10 kg gula pasir. Ketua aksi dari Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Sumitro, mengatakan pemerintah agar bisa mengatasi perembesan gula rafinasi karena hal itu sangat merugikan petani. "Pemerintah agar segera mengatasi perembesan gula rafinasi yang sangat merugikan petani," katanya. Para pengunjuk rasa meminta kepada Menteri Perdagangan Gita Wirjawan untuk segera menekan importasi gula. Jika tidak maka para petani yang menjadi korbannya. Aksi demo tersebut membuat Jalan Ridwan Rais arah Tugu Tani ditutup karena demonstran sangat banyak sehingga tidak bisa dilalui kendaraan bermotor. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
