Logo Header Antaranews Sumbar

Padang olah sampah jadi EBT melalui teknologi bantuan KLHK

Sabtu, 16 September 2023 13:07 WIB
Image Print
Tangkapan layar Faisal Basri menjelaskan terkait pendanaan energi bersih dan baru terbarukan (EBT) saat acara Media Briefing Transisi Energi Indonesia & Antisipasi Implikasinya Dan Peluncuran The Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2023, Rabu (13/9/2023). (ANTARA/Hana Kinarina)

Padang (ANTARA) - Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) akan mengolah sampah menjadi energi baru terbarukan (EBT) melalui teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) senilai Rp300 miliar bantuan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

"Melalui teknologi RDF ini maka Pemerintah Kota Padang akan mampu mengolah sampah menjadi sumber energi baru terbarukan," kata Wali Kota Padang Hendri Septa di Padang, Sabtu.

Teknologi RDF tersebut mampu mengolah sampah menjadi sumber energi alternatif, dan diperkirakan dapat beroperasi pada Desember 2023. Bantuan dari KLHK itu diperoleh setelah penandatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah Kota Padang dengan PT Semen Padang.

"Jadi, kami sangat berterima kasih kepada Semen Padang yang telah mengajak Pemerintah Kota Padang untuk MoU," kata dia.

Ia mengatakan, teknologi RDF sangat dibutuhkan oleh Padang, mengingat produksi sampah di kota berjuluk "Kota Bengkuang" tersebut mencapai 660 ton per harinya. Dari jumlah itu, hanya sekitar 100 ton yang bisa didaur ulang melalui bank sampah.

Selain masih masih terkendala dalam pengolahan sampah, saat ini kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Air Dingin, Lubuk Minturun juga sudah mengkhawatirkan.

"TPA Air Dingin sudah over kapasitas. Sebab, sekitar 550 ton sampah terus masuk ke TPA Air Dingin," kata dia.

Apabila tidak ada antisipasi, pemerintah setempat memperkirakan pada tahun 2026 Padang tidak bisa lagi menggunakan TPA Anak Air karena sudah tak mampu menampung volume sampah yang masuk setiap harinya.

"Makanya, kami sangat bersyukur sekali bisa mendapatkan bantuan teknologi RDF ini," ucapnya.

Kemudian, bagi PT Semen Padang teknologi RDF akan sangat membantu. Sebab, EBT yang dihasilkan dari mesin tersebut bisa menggantikan, atau menyubtitusi energi batu bara yang selama ini digunakan perusahaan semen tertua di Indonesia dan Asia Tenggara itu.

"Jadi, begitu besar manfaat bantuan teknologi RDF ini," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Semen Padang Asri Mukhtar Datuak Tumangguang Basa menyambut baik bantuan dari KLHK tersebut. Apalagi, selama ini perusahaan pelat merah itu gencar mendukung pemerintah mencari sumber EBT yang ramah lingkungan.

"Teknologi RDF ini mempunyai dua manfaat. Pertama, sebagai solusi sampah di Kota Padang dan kedua sebagai alternatif bahan bakar untuk Semen Padang dalam rangka implementasi program industri hijau," kata Asri Mukhtar.

Terkait dukungan PT Semen Padang terhadap persoalan sampah di Kota Padang, Asri Mukhtar menambahkan pada 2022 perusahaan itu meluncurkan program Nabuang Sarok berbasis aplikasi. Program ini, memiliki konsep pemberdayaan dan telah dimanfaatkan masyarakat dalam mengelola smapah.

"Masyarakat yang menyetor sampahnya ke Nabuang Sarok akan diberikan poin. Kemudian, poin tersebut bisa ditukarkan dengan berbagai hadiah menarik yang ada di aplikasi Nabuang Sarok," ujarnya.



Pewarta:
Editor: Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2026