Logo Header Antaranews Sumbar

Komisi VII Optimistis Target "Lifting" Minyak Tercapai

Selasa, 20 Agustus 2013 18:47 WIB
Image Print
Ketua Komisi VII DPR RI Sutan Bhatoegana. (Antara)

Jakarta, (Antara) - Ketua Komisi VII DPR RI Sutan Bhatoegana menyatakan pihaknya optimistis bahwa target "lifting" minyak mentah yang ditetapkan oleh pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2014 dapat tercapai. "Kami meyakini pemerintah dapat memenuhi target 'lifting' minyak sebesar 870 ribu barel per hari yang tercantum dalam RAPBN tahun 2014," kata Sutan saat ditemui sebelum Rapat Paripurna DPR di Gedung Nusantara II di Jakarta, Selasa. Menurut dia, target "lifting" minyak mentah tersebut sebenarnya bisa dicapai sejak beberapa tahun lalu bila PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) tidak mengalami masalah karena kontribusi perusahaan minyak itu sangat besar terhadap produksi minyak nasional. "Kalau tidak ada gangguan seperti yang dialami Chevron hingga mengakibatkan negara kehilangan lifting minyak sebesar 120.000 barel per hari, saya rasa kita sudah mencapai targetnya," ujarnya. Dia juga mengatakan bahwa kondisi saat ini berbeda dengan zaman Orde Baru, dimana setiap ada investor yang datang, PT Pertamina langsung melakukan pembebasan lahan untuk wilayah eksplorasi minyak. "Kalau sekarang, hal itu harus dilakukan oleh kontraktor sendiri. Belum lagi ada 'permainan' oleh beberapa oknum bupati di daerah yang sering minta 'bagian'," katanya. Terkait dengan besarnya pengaruh otonomi daerah dalam pembebasan lahan untuk eksplorasi minyak, Sutan berpendapat, peran Menteri Koordinator Perekonomian amat penting untuk mengurus masalah perizinan eksplorasi minyak di berbagai daerah. Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR RI Satya Wira Yudha menilai target "lifting" minyak yang disampaikan oleh pemerintah sebesar 870 ribu barel per hari dalam RAPBN 2014 itu kurang realitis. Hal itu, kata dia, karena pemerintah seharusnya memeriksa terlebih dahulu mengenai kelebihan potensi produksi minyak di beberapa lapangan. "Dalam menentukan target "lifting" minyak, pemerintah harus mengecek dulu kelebihan dari potensi tambahan produksi yang mungkin ada di lapangan, seperti di Blok Cepu," ujarnya. "Di Blok Cepu itu yang kita harapkan bisa meningkatkan produksi minyak nasional. Kalau itu belum dicantumkan, maka kita bisa menganggap bahwa masih ada potensi 'lifting' minyak untuk lebih dari 870 ribu barel per hari," lanjutnya. Namun, dia juga mengatakan untuk mencapai "lifting" minyak sebesar satu juta barel per hari, pemerintah perlu memeriksa kembali potensi produksi di tiap lapangan. "Lifting minyak satu juta barel per hari itu tentu tujuan kita bersama, tetapi apa itu bisa dicapai maka harus dilihat per lapangan, khususnya lapangan yang bisa mempunyai kontribusi besar pada lifting minyak," kata Satya. Selain itu, dia juga mendorong pemerintah untuk segera mulai membangun "refinery" (kilang minyak,red) walaupun hal itu tidak berimplikasi pada tahun anggaran 2013. "Sebab itu merupakan proyek jangka panjang yang kita harapkan supaya kita bisa mengimpor 'crude oil' (minyak mentah) lebih besar daripada impor 'fuel' (BBM) atau produk jadi," tuturnya. Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Golkar itu menilai cara tersebut akan mengurangi sebagian besar beban dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara,red). Sebelumnya, dalam pidato Penyampaian Keterangan Pemerintah atas RUU tentang RAPBN 2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan bahwa emerintah memperkirakan lifting minyak mentah mencapai 870 ribu barel per hari, sementara lifting gas bumi mencapai 1.240 ribu barel setara minyak per hari. Presiden juga mengatakan kapasitas produksi kedua sumber daya alam itu menunjukkan penurunan beberapa tahun terakhir ini, terutama disebabkan faktor usia sumber yang semakin kurang produktif. Namun demikian, kata Presiden, pemerintah akan terus berupaya untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak mentah dan gas bumi. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026