
Membangkit tradisi "bacarito" untuk menjaga regenerasi Bundo Kanduang

Padang (ANTARA) - Bacarito, bercerita, mendongeng atau sering juga disebut story telling bukan hal baru bagi masyarakat Minangkabau. Konon, pada abad ke-7 Masehi, sebelum Islam masuk ke negeri di Pesisir Barat Sumatera itu, masyarakat telah menggunakannya sebagai metode untuk mentransfer ilmu dan pengetahuan pada generasi selanjutnya.
Ia kemudian telah menjadi tradisi yang sudah melekat pada budaya Minangkabau. Bahkan setelah mengenal pendidikan formal saat penjajahan Belanda, tradisi itu masih mengakar kuat dan terus dipraktikkan.
Meski hanya secara lisan, namun menurut pakar komunikasi Universitas Andalas, Dr Emeraldy Chatra "bacarito" adalah metode tarbiyah (pendidikan) yang sangat efektif dan sejalan dengan tradisi islam.
Sebagai medote pendidikan, bacarito lebih efektif diterapkan saat pendengar berusia muda, sebelum 12 tahun. Karena menurut Emeraldy, anak-anak biasanya menyimak penuh perhatian dan sabar sehingga sebuah cerita dapat tinggal lebih lama dalam memori mereka ketimbang pelajaran tentang perilaku.
Disitulah peran "Bundo Kanduang" atau perempuan Minangkabau yang telah berkeluarga, beragama Islam dan mengurus kegiatan-kegiatan kelangsungan adat istiadat Minangkabau.
Nilai-nilai luhur dan kearifan lokal bisa ditranfer pada anak dengan cara yang menyenangkan. Nilai-nilai itu nantinya akan menjadi dasar bagi perkembangan karakter anak saat tumbuh dewasa. Regenerasi Bundo Kanduang, menggantikan peran ibunya dalam Rumah Gadang.
Dr Hoda Beshir (2005) membagi metode pendidikan melalui bacarito ini menjadi tiga yaitu cerita nabi-nabi, cerita tentang orang tertentu dalam situasi tertentu dan cerita yang lebih umum tentang peristiwa masa lampau.
Bundo kanduang dengan segala kearifannya, dengan pengalamannya diyakini mampu mengolah pengetahuan adat menjadi cerita yang menarik, diceritakan dalam suasana yang menyenangkan.
Mentransfer pengetahuan tentang fungsi perempuan di Minangkabau sebagai penerus tali keturunan, fungsi kemuliaan kaum, fungsi umpun paruak pemegang peti aluang bunian-penentu warih bajawek pusako batolong, role tenggang nagari dan adat jan binaso.
Bundo Kanduang juga bisa memberikan pemahaman tentang sumbang 12. Diantaranya sumbang duduak, sumbang tagak, sumbang jalan, sumbang kato, sumbang caliak, sumbang makan, sumbang pakai, sumbang karajo, sumbang tanyo, sumbang jawek, sumbang bagaua, dan sumbang kurenah.
Dewan Pakar LKAAM, DR Yulizal Yunus, Msi Dt Rajo Bagindo mengatakan peran Bundo Kanduang itu sangat penting untuk menjaga sejarah Ranah Minang agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi selanjutnya.
Anggota DPRD Sumbar Drh. Nella Abdika Zamri memahami benar pentingnya peran Bundo Kanduang itu. Karenanya ia menginisiasi Bimbingan Teknis Pembinaan Sejarah Minangkabau 14-17 Juni 2022.
Ia berharap bimbingan teknis itu akan bisa berkontribusi terhadap keterjagaan sejarah Minangkabau untuk generasi masa depan.***
Pewarta: Miko Elfisha
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
