Logo Header Antaranews Sumbar

Sembilan Orang Tewas dalam Serangan di Irak

Sabtu, 13 Juli 2013 07:17 WIB
Image Print

Baghdad, Irak, (Antara/AFP) - Serangan-serangan Jumat yang ditujukan pada pasukan keamanan menewaskan sembilan orang di Irak, termasuk seorang brigjen polisi, kata sejumlah pejabat kepolisian dan dokter. Kekerasan itu terjadi sehari setelah serangan-serangan bom dan penembakan menewaskan 56 orang. Orang-orang bersenjata menembak mati Brigjen Sabri Abed Issa ketika ia sedang menuju sebuah masjid di dekat Sharqat, sebelah baratlaut Baghdad. Dalam insiden lain di Muqdadiyah, sebelah timurlaut ibu kota Irak tersebut, penyerang membunuh seorang pensiunan polisi di depan rumahnya. Di kota Mosul, Irak utara, penyerang bunuh diri meledakkan kendaraannya yang berisi bom di sebuah pos pemeriksaan polisi, menewaskan empat polisi dan mencederai dua lain. Bom tempel magnetis juga menewaskan satu warga sipil di Mosul, dan bom pinggir jalan di sebelah selatan kota itu menewaskan seorang polisi dan mencederai satu orang. Di dekat Baquba, juga sebelah utara Baghdad, bom tempel menewaskan seorang anggota milisi penentang Al Qaida dan mencederai satu orang. Serangan-serangan itu terjadi sehari setelah gelombang kekerasan menewaskan 56 orang, 31 diantaranya anggota pasukan keamanan Irak. Kekerasan itu merupakan yang terakhir dari gelombang pemboman dan serangan bunuh diri di tengah krisis politik antara Perdana Menteri Nuri al-Maliki dan mitra-mitra pemerintahnya dan pawai protes selama beberapa pekan yang menuntut pengunduran dirinya. Gelombang serangan di Irak meningkat sejak awal tahun ini, dan menurut laporan PBB, lebih dari 2.500 orang tewas dari April hingga Juni, jumlah tertinggi sejak 2008. Jumlah kematian pada Maret mencapai 271, sementara sepanjang Februari, 220 orang tewas dalam kekerasan di Irak, menurut data AFP yang berdasarkan atas keterangan dari sumber-sumber keamanan dan medis. Irak dilanda kemelut politik dan kekerasan yang menewaskan ribuan orang sejak pasukan AS menyelesaikan penarikan dari negara itu pada 18 Desember 2011, meninggalkan tanggung jawab keamanan kepada pasukan Irak. Selain bermasalah dengan Kurdi, pemerintah Irak juga berselisih dengan kelompok Sunni. Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki (Syiah) sejak Desember 2011 mengupayakan penangkapan Wakil Presiden Tareq al-Hashemi atas tuduhan terorisme dan berusaha memecat Deputi Perdana Menteri Saleh al-Mutlak. Keduanya adalah pemimpin Sunni. Pejabat-pejabat Irak mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi Wakil Presiden Tareq al-Hashemi pada 19 Desember 2011 setelah mereka memperoleh pengakuan yang mengaitkannya dengan kegiatan teroris. Puluhan pengawal Hashemi, seorang pemimpin Sunni Arab, ditangkap dalam beberapa pekan setelah pengumuman itu, namun tidak jelas berapa orang yang kini ditahan. Hashemi, yang membantah tuduhan tersebut, bersembunyi di wilayah otonomi Kurdi di Irak utara, dan para pemimpin Kurdi menolak menyerahkannya ke Baghdad. Pemerintah Kurdi bahkan mengizinkan Hashemi melakukan lawatan regional ke Qatar, Arab Saudi dan Turki. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026