
Pengamat: Rohani Siap Jadi Juru Damai Suriah

Jakarta, (Antara) - Pengamat politik Timur Tengah, Fuad Mardhatillah, berpendapat bahwa Presiden baru Iran, Hassan Rohani, siap mengambil peran sebagai juru damai atas konflik Suriah guna memantapkan politik luar negeri Republik Islam tersebut. "Saya pikir Rohani bisa mengambil peran juru damai. Itu guna menempatkan politik luar negeri Iran dalam perspektif yang tidak sekedar mendukung suatu pro kontra dalam sebuah negara terhadap perebutan kekuasaan, tetapi dia akan melihat bagaimana rakyat negara tersebut perlu diberi tempat (menentukan nasib mereka sendiri)," kata Fuad saat dihubungi dari Jakarta, Minggu. Hal tersebut, menurut Fuad sudah mulai terlihat dengan bagaimana cara Rohani menyikapi konflik berkepanjangan di Suriah. "Rohani terlihat lebih berpihak kepada demokrasi, rakyat dikembalikan kedaulatannya. Dalam konteks Suriah, dalam konflik yang sudah begitu rupa kontras antara pemerintah dan oposisinya, Iran berpendapat diperlukan adanya sebuah mekanisme bagi masyarakat menentukan masa depan mereka," ujar dia. "Perspektif Rohani itu dia selalu mencoba membangun jalan tengah," katanya menambahkan. Berkaitan dengan upaya penyelasaian konflik Suriah yang sudah berlangsung semenjak 2011 lalu tersebut, pada Sabtu (22/6) Menteri Luar Negeri Iran Ali-Akbar Salehi memastikan negaranya ikut ambil bagian dalam Konferensi Jenewa II jika berlanjut dilangsungkan. Sebelumnya dalam sebuah jumpa pers perdananya setelah terpilih sebagai Presiden ke-8 Iran, Rohani menyatakan hanya rakyat Suriah yang berhak menentukan masa depan mereka, sebagai upaya memperlihatkan sikap penentangan negaranya terhadap aksi terorisme di Suriah dan campur tangan asing dalam urusan dalam negeri tersebut. "Pembuat keputusan akhir tentang nasib Suriah adalah orang Suriah," kata dia pada Selasa (18/6) di Teheran. "Kami menentang terorisme dan bahwa negara-negara lain ingin campur tangan dalam urusan internal Suriah," kata Rohani menegaskan. Dia menyatakan harapan perdamaian dan ketenangan akan dipulihkan di Suriah dengan bantuan negara kawasan dan dunia, dan bahwa tuntutan rakyat akan terpenuhi di sana. Rohani menambahkan bahwa "pemerintah Suriah adalah sah dan legal dan memiliki hak untuk tinggal di tempatnya sampai pemilihan umum diadakan." "Ini adalah sampai Suriah memutuskan siapa yang akan mewakili mereka dalam pemilu berikutnya," kata Rohani. Rohani terpilih menjadi presiden ke-8 Iran setelah menang 50,7 persen suara, jauh melampaui pesaing terdekatnya dari kubu konservatif. Kemenangan Rohani dalam pemilihan presiden itu juga ditandai dengan ketinggian tingkat peranserta rakyat Iran, yang mencapai 36,7 juta pemegang hak suara atau 72,7 persen pemilih. Hassan Rohani lahir pada 1948 di kota Sorkheh di Provinsi Semnan. Dia berasal dari keluarga lama dikenal karena berjuang melawan kekuasaan Shah. Rohani ikut menggalang tentara Iran dan terpilih menjadi anggota di Dewan Syura selama lima masa bakti antara 1980 hingga 2000 serta menjadi ketua dewan tersebut selama 16 tahun, 1989-2005. Rohani adalah penasehat Presiden Hashemi Rafsanjani dan Mohammad Khatami. Pada 2003, ia adalah wakil Iran untuk perundingan dengan Eropa mengenai nuklir Iran. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
