
Waspadai Penyakit Akibat Perubahan Cuaca

Jakarta, (Antara) - Perubahan pola cuaca di Tanah Air dapat meningkatkan risiko beberapa penyakit sehingga masyarakat diharapkan untuk waspada dan melakukan tindakan antisipatif untuk mencegah terjangkit penyakit-penyakit tersebut. "Perubahan iklim dunia dewasa ini mengakibatkan terjadinya anomali cuaca yang dapat kita rasakan di Indonesia, seperti hujan yang sering terjadi justru di musim kemarau. Dan perubahan iklim dalam bentuk apapun tentu punya dampak bagi kesehatan," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa. Beberapa penyakit yang kejadiannya meningkat akibat perubahan iklim, antara lain penyakit yang disebarkan oleh vektor nyamuk seperti demam berdarah, malaria dan chikunguya; penyakit akibat kurangnya ketersediaan air bersih seperti diare dan penyakit kulit serta peningkatan suhu lingkungan dan polutan yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut, malnutrisi sampai gizi buruk, penyakit jantung, penyakit pernapasan asma, alergi, serta penyakit paru kronik. Tjandra mengatakan Kementerian Kesehatan telah melakukan berbagai upaya bagi antisipasi dampak kesehatan akibat perubahan iklim tersebut, salah satunya melakukan surveilans penyakit dampak perubahan iklim terhadap lima penyakit, yaitu diare, pneumonia, penyakit serupa influensa (Influenza Like Illness/ILI), demam berdarah dengue (DBD), dan malaria yang dilaksanakan oleh Balitbangkes. "Selain itu juga dilakukan kajian dan pemetaan model kerentanan penyakit infeksi akibat perubahan iklim dengan fokus pada demam berdarah dengue dan malaria, bekerja sama dengan Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC-UI)," kata Tjandra. Pemetaan model kerentanan penyakit itu dilaksanakan di enam provinsi yaitu Sumatera Barat, DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, Bali, dan Kalimantan Tengah. "Upaya-upaya ini merupakan bentuk sistem peringatan dini penyakit berbasis iklim untuk melakukan segera tindakan promotif dan preventif praktis di masyarakat seperti pemberdayaan masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk, pemeliharaan sanitasi lingkungan, dan lain-lain," ujar Tjandra. Sementara itu, beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat secara mandiri dalam menghadapi ancaman penyakit akibat perubahan iklim/cuaca dipaparkan Tjandra adalah dengan melakukan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), cuci tangan pakai sabun (CTPS), penggunaan air bersih dan jamban sehat, pemberantasan jentik di rumah, sekolah, kantor, dan lingkungan sekitar serta membuang sampah pada tempatnya. Masyarakat juga diharapkan untuk tidak meludah sembarangan, menggunakan alat pelindung diri bila diperlukan seperi memakai sepatu boot saat terjadi banjir untuk menghindari infeksi leptospira atau memakai kelambu atau lotion anti nyamuk di wilayah rawan/endemis demam berdarah. Tjandra juga mengingatkan masyarakat untuk bertindak CERDIK yaitu Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin berolahraga/aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup dan Kelola stres. "Selain itu, segeralah berobat bila mengalami gangguan kesehatan yang berarti," pesan Tjandra. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
